LombokPost — Krisis air bersih yang dialami masyarakat Desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, mendorong lahirnya inovasi baru melalui kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat.
Kolaborasi yang terdiri dari akademisi Prodi Teknik Lingkungan UNU NTB, Prodi Ilmu Lingkungan Unram, Department Tourism and Management Griffith University dan Teknologi Infomasi UIN Mataram.
Ini memperkenalkan teknologi desalinasi berbasis tenaga matahari atau solar still sebagai alternatif penyediaan air bersih yang murah, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan oleh masyarakat pesisir.
Desa Mumbul Sari terdiri atas 11 dusun dan sebagian besar penduduknya bermukim di kawasan pesisir. Meski memiliki sumber mata air, hasil penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan kualitas air tanah.
Kontaminasi bakteri Coliform dan Escherichia coli ditemukan dalam jumlah tinggi, melebihi ambang batas standar air bersih berdasarkan Permenkes 492/2010.
Selain itu, intrusi air laut akibat perubahan iklim turut memperparah kondisi air sumur warga hingga mengandung rasa asin dan tidak layak konsumsi.
Akibatnya, masyarakat harus membeli air bersih dengan harga tinggi—sebuah beban ekonomi yang signifikan terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Sementara itu, pengelolaan sampah di desa tersebut belum berjalan optimal.
Banyak warga masih membakar atau membuang sampah ke sungai yang akhirnya mengalir ke laut.
Limbah plastik menjadi jenis sampah yang paling banyak mencemari lingkungan, sekaligus merusak ekosistem pesisir yang selama ini menjadi sumber penghidupan nelayan.
Kondisi inilah yang mendorong perlunya inovasi berbasis edukasi lingkungan.
Tujuan Kegiatan Penelitian dan Pengabdian ini yakni Menyediakan solusi air bersih melalui teknologi desalinasi sederhana berbasis energi matahari, Meningkatkan kesadaran lingkungan.
Khususnya pengelolaan sampah plastik dan sanitasi sehat, Memberdayakan Karang Taruna dan masyarakat pesisir agar mampu mengaplikasikan dan mengembangkan teknologi tepat guna secara mandiri.
"Hal ini krusial dalam mendorong dan meningkatkan kemandirian desa dalam penyediaan sumber air bersih berkelanjutan,” ujar Lalu Auliya Akraboe Littaqwa salah satu akademisi UNU.
Program penelitian dimulai dengan observasi lapangan, identifikasi permasalahan, dan wawancara dengan pemerintah desa serta Karang Taruna.
Dari proses itu, tim menemukan kebutuhan mendesak akan teknologi penyedia air bersih yang murah dan mudah dirakit.
Setelah itu dilakukan sosialisasi mengenai pentingnya air bersih, dampak sanitasi buruk, serta potensi pemanfaatan limbah plastik sebagai material pendukung alat desalinasi.
Tahap berikutnya adalah pelatihan teknis pembuatan solar still. Warga diajarkan cara merakit alat yang memanfaatkan panas matahari untuk menguapkan air laut, kemudian mengembunkannya menjadi air tawar.
Teknologi ini tidak membutuhkan listrik dan dapat dibuat dari bahan lokal seperti kaca, pipa, wadah plastik, dan aluminium.
Limbah plastik dari masyarakat pun digunakan sebagai komponen pendukung, sehingga turut mengurangi jumlah sampah yang mencemari lingkungan.
Setelah pelatihan, masyarakat bersama tim melakukan uji coba alat di beberapa titik strategis di desa.
Karang Taruna berperan aktif dalam proses uji fungsi, perawatan, hingga pengukuran volume air yang dihasilkan setiap harinya.
Proses pendampingan dilakukan selama beberapa minggu untuk memastikan alat dapat digunakan secara optimal.
Selain itu, tim juga memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah terpadu, termasuk pembentukan bank sampah dan usaha daur ulang sederhana.
Upaya ini diharapkan mampu mengurangi sampah plastik sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi pemuda desa.
Dari hasil penelitian dan penerapan lapangan, teknologi desalinasi solar still terbukti dapat menjadi solusi alternatif air bersih yang terjangkau bagi masyarakat pesisir Mumbul Sari.
Alat mampu menghasilkan air tawar yang memenuhi standar konsumsi rumah tangga dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan harian skala kecil.
Selain itu, kegiatan ini meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang sanitasi, pendidikan lingkungan, serta pemanfaatan limbah plastik.
Program juga menunjukkan bahwa pemberdayaan Karang Taruna menjadi kunci keberlanjutan inovasi.
Mereka kini mampu merakit dan merawat alat secara mandiri, serta siap mereplikasi teknologi tersebut di dusun lain.
Secara keseluruhan, penerapan desalinasi tenaga surya membuka peluang baru bagi kemandirian air bersih di kawasan pesisir dan diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa lain di Lombok Utara. (*)
Editor : Pujo Nugroho