LombokPost- Persoalan sampah plastik tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga tantangan kreativitas di dunia pendidikan. Melalui Program Sapuku (Sampah Plastik untuk Karya)yang Unik SMPN 14 Mataram membuktikan sampah plastik dapat diolah menjadi karya seni bernilai sekaligus sarana pembentukan karakter siswa.
Program Sapuku SMPN 14 Mataram hadir sebagai solusi di tengah keterbatasan penerapan konsep zero waste atau bebas sampah secara menyeluruh.
Koordinator Sapuku SMPN 14 Mataram Rida Yohaeni mengakui sekolah belum mampu sepenuhnya bebas sampah plastik. Namun langkah kreatif ini diambil agar sampah plastik tidak mencemari lingkungan.
“Kita mengakui belum mampu benar-benar zero waste. Yang kita lakukan sekarang adalah mengatasi permasalahan sampah plastik yang ada agar tidak mencemari lingkungan,” ujar Rida, Sabtu lalu (20/12).
Menurut Rida, membakar sampah plastik berisiko mencemari udara, sementara menanamnya justru merusak tanah karena plastik sulit terurai. Karena itu program Sapuku dipilih sebagai jalan tengah yang edukatif dan berkelanjutan.
Program Sapuku tidak hanya menghasilkan karya fisik, tetapi juga menjadi sarana penanaman karakter siswa melalui metode Pembelajaran Mendalam (PM). Dari delapan dimensi profil lulusan, program ini menyentuh lima dimensi, termasuk aspek kesehatan, kolaborasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Melalui Sapuku, siswa diajak memahami bahwa menjaga kesehatan lingkungan dimulai dari diri sendiri, salah satunya dengan tidak membiarkan sampah plastik menjadi sumber penyakit. Kerja tim dan komunikasi antarsiswa juga terasah saat mereka merancang strategi mengolah sampah plastik menjadi produk kreatif.
“Anak-anak didorong berpikir kritis tentang apa yang bisa diolah menjadi karya. Bakat seni dan sisi kreatif siswa yang sebelumnya terpendam kini mulai muncul,” tambah Rida.
Respons positif datang dari guru dan siswa. Antusiasme tersebut menjadi modal untuk meningkatkan kualitas Program Sapuku ke depan. Meski berfokus pada pengolahan limbah, Rida menegaskan Sapuku bukan berarti mendukung penggunaan plastik secara terus-menerus.
“Ini langkah transisi. Jika kelak pembatasan plastik sudah maksimal dan sampah plastik benar-benar berkurang, karakter kreatif dan tangguh siswa sudah terbentuk melalui Sapuku,” ujar Rida.
Sementara itu, Kepala SMPN 14 Mataram Lina Yeti Budiasih menyebutkan, program Sapuku sebagai langkah nyata sekolah dalam menangani limbah sekaligus mengasah kreativitas siswa melalui kurikulum terintegrasi.
Program ini bermula dari diskusi antara kepala sekolah dan guru terkait penanganan limbah sekolah, khususnya sampah plastik bekas minuman, sedotan, dan sendok plastik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebagai bentuk keseriusan Lina menerbitkan SK penanggung jawab serta menunjuk koordinator di setiap kelas untuk memantau pengolahan sampah plastik menjadi karya. Sampah organik ditangani pemerintah kota melalui pengomposan, sementara sampah plastik menjadi tanggung jawab warga sekolah.
Tak hanya itu, kata Lina, program Sapuku SMPN 14 Mataram juga masuk dalam penilaian ko-kurikuler atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang tercantum dalam rapor siswa. Setiap kelas wajib menghasilkan produk dengan 90 persen bahan berasal dari limbah sekolah, seperti kantong kresek dan plastik kemasan.
Penilaian Sapuku tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga karakter siswa, meliputi kerja sama tim, kerapian, inovasi ide, jumlah karya, kebermanfaatan produk, serta potensi nilai jual.
“Kami berharap siswa terus berinovasi dalam mengolah sampah plastik, sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, kreatif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post