LombokPost - Penerapan uji coba sistem lima hari sekolah (full day school) di Kota Mataram memicu beragam reaksi dari para siswa.
Meski menjanjikan waktu libur akhir pekan yang lebih panjang, sistem ini membawa tantangan baru bagi mereka yang memiliki segudang aktivitas di luar jam sekolah.
Full Day School dimulai pukul 07.30 Wita dan siswa pulang pukul 15.30 Wita. Istirahat pertama dijadwalkan pukul 10.00-11.00 Wita, sedangkan istirahat kedua berlangsung pukul 12.00-13.00 Wita. Pengaturan ini bertujuan agar siswa memiliki waktu istirahat cukup selama mengikuti jam belajar.
Aisyah Oktifiani, salah seorang siswi di Kota Mataram, mengaku menyambut baik rencana ini, namun ia tidak menampik adanya kekhawatiran terkait jadwal pribadinya yang semakin padat. Selama ini, Aisyah memiliki rutinitas yang cukup ketat selepas sekolah.
"Biasanya sepulang sekolah saya bisa istirahat sejenak sebelum lanjut latihan renang dan mengaji di malam hari. Dengan sistem full day, saya harus langsung berangkat latihan renang begitu pulang sekolah. Saya benar-benar harus pintar mengatur waktu sekarang," ungkapnya.
Di sisi lain, respons positif datang dari Putri Anggraini. Ia mengaku sangat senang dengan sistem lima hari sekolah karena memberikan kompensasi libur di hari Sabtu dan Minggu.
Menurut Putri, waktu luang di akhir pekan sangat berharga untuk menyegarkan pikiran setelah sepekan penuh bergelut dengan pelajaran.
"Senang karena Sabtu dan Minggu bisa libur. Waktunya bisa digunakan untuk kegiatan lain atau sekadar berkumpul bersama keluarga dan teman-teman," ujarnya.
Uji coba ini terus menjadi bahan evaluasi bagi otoritas pendidikan di Kota Mataram untuk melihat sejauh mana efektivitasnya terhadap keseimbangan antara beban akademik siswa dan ruang pengembangan diri di luar sekolah.
Uji coba Full Day School juga diintegrasikan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dinas Pendidikan Kota Mataram memastikan distribusi MBG menyesuaikan jadwal baru agar kebutuhan gizi siswa tetap terpenuhi selama menjalani FDS.
Kebijakan lima hari sekolah ini memberi ruang pemanfaatan hari Sabtu untuk kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, maupun workshop peningkatan kompetensi guru dan siswa.
Jika tidak ada agenda khusus, hari Sabtu menjadi hari libur.
Editor : Jelo Sangaji