LombokPost- Program Satu Guru Satu Siswa Putus Sekolah digulirkan sebagai strategi menekan anak putus sekolah di Lombok Barat. Inovasi ini menjadi langkah konkret berbasis data untuk memastikan tidak ada siswa yang terlepas dari akses pendidikan.
Program Satu Guru Satu Siswa Putus Sekolah digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Barat (Lobar) dengan pendekatan by name by address (BNBA) yang telah divalidasi lintas instansi.
Sekretaris Dikbud Lobar Hairuddin menegaskan, setiap guru nantinya akan bertanggung jawab mendampingi satu siswa yang mengalami putus sekolah hingga kembali menuntaskan pendidikan.
Baca Juga: Unram-Universitas Hamzanwadi Bersinergi, Percepat Pemenuhan Dokter di NTB
“Kita akan kolaborasi dengan semua sekolah. Guru bertugas mengawal satu anak putus sekolah sampai kembali bersekolah dan lulus,” ujarnya, Senin (13/4).
Ia menjelaskan, program Satu Guru Satu Siswa Putus Sekolah lahir dari forum diskusi lintas instansi yang melibatkan Bappeda, BPS, hingga Dukcapil. Hasilnya, data siswa putus sekolah kini lebih akurat dan siap ditindaklanjuti.
Implementasi program ini dijadwalkan difinalisasi dalam waktu dekat. Data BNBA akan langsung didistribusikan ke sekolah agar pendampingan bisa segera dilakukan di lapangan.
Baca Juga: Literasi Budaya Sasak Dikuatkan, SDN 14 Cakranegara Jadi Percontohan Multietnik
Pada pelaksanaan, kolaborasi menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Selain pendampingan individu, penguatan juga dilakukan melalui forum rutin seperti Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).
Dalam setiap pertemuan, kepala sekolah diminta aktif memantau potensi anak putus sekolah di Lobar, terutama di jenjang SMP yang dinilai paling rentan.
Salah satu faktor krusial yang menjadi perhatian adalah fenomena merarik kodek atau pernikahan usia dini. Selain itu, faktor ekonomi dan lingkungan pergaulan juga kerap memicu meningkatnya angka anak putus sekolah di Lobar.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Tekan Putus Sekolah di NTB, Wamen Tinjau SRMP 18 Lobar
“Masalah ekonomi hingga merarik kodek tidak boleh membuat anak berhenti sekolah. Kepala sekolah harus terus memantau kondisi siswa,” tegas Hairuddin.
Tak hanya itu, peran pengawas sekolah juga diperkuat. Mereka kini diberi ruang lebih luas untuk melakukan pembinaan langsung di sekolah, baik kepada guru maupun siswa.
Dengan pendekatan tersebut, program Satu Guru Satu Siswa Putus Sekolah diharapkan mampu menjadi solusi efektif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Siswa Absen TKA, Rapor Pendidikan Sekolah Terancam
Hairuddin optimistis gerakan Satu Guru Satu Siswa Putus Sekolah mampu menekan angka anak putus sekolah di Lobar. Sinergi seluruh elemen pendidikan diyakini menjadi kunci keberhasilan program ini.
Editor : Akbar Sirinawa