LombokPost-- Masalah stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Tak terkecuali di Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar.
Kondisi ini memantik kreativitas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram (Polkesram) untuk menciptakan solusi pangan murah, mudah, namun kaya nutrisi.
Inovasi tersebut diberi nama BOTAKLOR. Akronim unik dari Bola-bola Kentang, Ikan, dan Daun Kelor.
Camilan sehat ini dihadirkan sebagai senjata baru bagi para ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi balita guna menekan angka stunting di tingkat desa.
Mirnawati Sukma Dewi, salah satu perwakilan mahasiswa KKN Polkesram di Desa Batu Mekar, mengungkapkan bahwa pemilihan bahan baku BOTAKLOR didasarkan pada potensi lokal yang melimpah namun sering kali dipandang sebelah mata.
"Kami melihat Desa Batu Mekar punya potensi luar biasa, tapi angka stunting masih jadi tantangan. Akhirnya kami meramu BOTAKLOR. Ikan kami pilih sebagai sumber protein hewani yang vital untuk pertumbuhan otak, kentang untuk energi, dan daun kelor yang merupakan superfood lokal karena kaya vitamin dan mineral," ujar Mirnawati kepada Lombok Post.
Baca Juga: Pupuk Indonesia Salurkan Bantuan 1,75 Ton Pupuk ke Lapas Lobar
Menurut Mirnawati, tantangan terbesar dalam pemberian makanan tambahan (PMT) adalah selera anak.
Banyak balita yang enggan makan sayur atau ikan jika diolah secara konvensional. Dengan bentuk bola-bola yang menyerupai jajanan populer, anak-anak cenderung lebih tertarik untuk mencicipi.
"BOTAKLOR ini tidak hanya bergizi, tapi juga ramah di kantong. Kami ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa pemenuhan gizi anak tidak harus mahal atau menggunakan bahan impor. Apa yang ada di sekitar rumah, kalau diolah kreatif, bisa jadi solusi cerdas," tambahnya.
Kegiatan ini dilakukan melalui demonstrasi masak langsung di hadapan ibu hamil, ibu balita, dan para kader posyandu.
Respon warga sangat antusias. Banyak ibu-ibu yang terkejut bahwa daun kelor—yang biasanya hanya disayur bening—bisa menjadi camilan yang gurih dan disukai anak-anak.
Melalui edukasi ini, para mahasiswa berharap ada perubahan pola pikir (mindset) di tengah masyarakat.
Dari yang semula bergantung pada makanan instan, beralih kembali ke kearifan lokal.
Baca Juga: Perkuat Sinergi, Satpol PP NTB Tingkatkan Kapasitas Aparatur dalam Pemberantasan Cukai Ilegal 2026
Mirnawati menekankan bahwa konsistensi adalah kunci dalam pencegahan stunting.
"Kami berharap setelah masa KKN berakhir, resep BOTAKLOR ini terus dipraktikkan secara mandiri di dapur-dapur warga. Ini adalah langkah kecil dari desa untuk menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat dan bebas stunting," tutupnya penuh harap.
Upaya yang dilakukan mahasiswa Polkesram ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana, jika tepat sasaran, mampu memberikan dampak nyata bagi derajat kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput. (ton)
Editor : Kimda Farida