LombokPost--Program unggulan bertajuk Santripreneur untuk intake September 2026. Program tersebut memadukan sistem perkuliahan kampus dengan boarding atau pondok pesantren mahasiswa. Sasaran utamanya adalah lulusan pondok pesantren, termasuk dari NTB.
Program itu akan diperkenalkan dalam pertemuan TSU bersama sejumlah pengelola pondok pesantren dan perwakilan dari NTB.
Wakil Rektor Bidang Kolaborasi Industri dan Kewirausahaan TSU Dr Sutanto mengatakan, konsep santripreneur dibangun untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus mencetak sumber daya manusia (SDM) yang kuat secara akademik dan karakter.
“Yang kami siapkan bukan hanya kuliah biasa. Mahasiswa juga tinggal di boarding dengan sistem pondok pesantren agar mental, karakter, dan kemampuan akademiknya terbentuk,” ujarnya kemarin (21/5) dalam diskusi secara daring membahas program ini.
Dia menjelaskan, TSU berada dalam ekosistem Tiga Serangkai Group yang bergerak di sektor industri. Karena itu, kebutuhan dunia industri akan diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan kampus.
Selain pembelajaran akademik, mahasiswa dengan sistem boarding ini akan mendapatkan penguatan bahasa Inggris, metodologi riset, character building, hingga kewirausahaan berbasis project learning.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori bisnis, tetapi langsung praktik melalui proyek kewirausahaan di pondok pesantren mahasiswa,” katanya.
TSU juga menyiapkan program Master Preparation atau persiapan studi S2 dalam dan luar negeri. Program tersebut difokuskan pada penguasaan TOEFL, academic writing, metodologi riset, hingga strategi memenangkan beasiswa.
Menurut Sutanto, materi dalam program tersebut nantinya dapat direkognisi hingga 30 SKS. Targetnya, lulusan TSU memiliki peluang lebih besar melanjutkan studi melalui jalur beasiswa.
Selain itu, pembinaan karakter dan spiritualitas juga menjadi bagian utama program. Mahasiswa boarding akan mendapatkan pembelajaran tahfidz Alquran, kepemimpinan, hingga penguatan soft skill.
TSU secara khusus ingin membuka akses bagi lulusan pondok pesantren di NTB untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui program tersebut.
“Kami ingin menyambut putra-putri terbaik dari Lombok dan NTB supaya tidak bingung mencari tempat kuliah sekaligus boarding berbasis pesantren,” jelasnya.
Saat ini, TSU telah menyiapkan pondok pesantren mahasiswa yang lokasinya sekitar 10 menit dari kampus. Kuota awal program santripreneur dibatasi hanya untuk 200 mahasiswa.
Program tersedia untuk jenjang S1 dan D3. Untuk jenjang S1, mahasiswa akan menempuh 144 SKS, sedangkan D3 sebanyak 108 SKS.
Sementara itu, Head of Marcomm TSU Ema Utami mengatakan, program tersebut dirancang sejalan dengan kurikulum kampus. Dia menyebut ada dua skema yang ditawarkan bagi santri dari NTB.
Baca Juga: Menjaga Tunas Bangsa, Membangkitkan Masa Depan NTB
Pertama, bagi santri yang telah menyelesaikan masa pengabdian di pondok pesantren dapat langsung melanjutkan kuliah dengan sistem boarding di TSU.
Kedua, bagi santri yang masih menjalani pengabdian, kegiatan tersebut dapat dikolaborasikan dengan TSU dan direkognisi sebagai bagian dari perkuliahan.
“NTB menjadi salah satu daerah yang kami bidik karena memiliki banyak pondok pesantren. Kami ingin membangun kolaborasi lebih dekat dengan pondok-pondok di sana,” ujarnya.
Pendaftaran program Santripreneur telah dibuka melalui laman PMB TSU. Biaya kuliah dimulai dari Rp 3,5 juta per semester di luar biaya pondok pesantren. Selain itu, tersedia pula program beasiswa bagi santri berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Editor : Kimda Farida