Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

SMAN 7 Mataram Pulihkan Trauma Siswa Pascaatap Ambruk, Terapkan Double Shift dan Trauma Healing

Jay • Kamis, 21 Mei 2026 | 15:55 WIB
DILARANG MELINTAS: Kepala SMAN 7 Mataram Ridha Rosalina (jilbab) bersama anggota dewan melihat kondisi ruang kelas yang atapnya ambruk di sekolah setempat, Rabu (20/5). SMAN 7 Mataram pulihkan trauma siswa pascaatap ambruk, terapkan double shift dan trauma healing.
DILARANG MELINTAS: Kepala SMAN 7 Mataram Ridha Rosalina (jilbab) bersama anggota dewan melihat kondisi ruang kelas yang atapnya ambruk di sekolah setempat, Rabu (20/5). SMAN 7 Mataram pulihkan trauma siswa pascaatap ambruk, terapkan double shift dan trauma healing.

LombokPost- SMAN 7 Mataram bergerak cepat melakukan pemulihan trauma siswa pascainsiden atap ruang kelas ambruk, Selasa (19/5).

Selain menerapkan sistem double shift, pihak sekolah menggelar trauma healing dan istigasah untuk menenangkan kondisi psikologis siswa setelah musibah di gedung sekolah itu.

Langkah penanganan trauma siswa di SMAN 7 Mataram dimulai dengan mengumpulkan seluruh siswa di lapangan sekolah.

Manajemen sekolah memberikan penjelasan sekaligus informasi yang menenangkan agar para siswa tidak mengalami trauma berkepanjangan akibat insiden atap ambruk.

Diketahui, atap ruang kelas SMAN 7 Mataram di Jalan Adi Sucipto, Ampenan, ambruk saat jam istirahat.

Peristiwa itu menyebabkan empat siswa sempat terjebak di bawah reruntuhan material bangunan sekolah.

Baca Juga: BRIDA Gandeng Ekosistem Hexahelix Guna Dorong Integrasi Riset dan Inklusivitas Menuju Net Zero Emission

Insiden atap ambruk terjadi ketika sebagian besar guru dan siswa sedang melaksanakan salat duhur berjamaah di musala sekolah.

Suara dentuman keras dari gedung sekolah sempat membuat panik para jamaah yang tengah beribadah.

Kepala SMAN 7 Mataram Ridha Rosalina menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua siswa atas musibah itu.

Saat ini, fokus utama sekolah adalah memastikan keamanan gedung sekolah sebelum proses belajar mengajar kembali berjalan normal.

“Kami ingin menenangkan siswa agar tidak trauma. Insyaallah secepatnya Dinas PUPR akan mengecek kelayakan gedung sekolah lainnya. Meskipun terlihat kokoh, kami tidak ingin mengambil risiko,” ujarnya.

Baca Juga: TSU Buka Program Santripreneur, Sasar Lulusan Ponpes NTB

Sebagai bagian dari trauma healing, sekolah menggelar istigasah bersama pada Rabu (20/5). Kegiatan spiritual itu dilakukan untuk memperkuat mental siswa sekaligus membantu pemulihan trauma pascainsiden gedung sekolah ambruk.

Ridha menegaskan, satu deret gedung sekolah yang terdampak tidak akan digunakan sementara waktu hingga hasil asesmen dari Dinas PUPR keluar. Seluruh siswa dan staf juga dilarang melintas di area itu demi alasan keamanan.

Untuk menjaga kelangsungan kegiatan belajar mengajar (KBM), SMAN 7 Mataram menyiapkan skema double shift selama dua pekan ke depan.

Langkah ini dilakukan karena jumlah ruang kelas yang tersedia tidak lagi mencukupi setelah sebagian gedung sekolah ditutup.

Baca Juga: Pengawasan Susu Kuda Liar Sumbawa Diperketat, Kemenkum NTB Ingatkan Ancaman Rusaknya Reputasi Produk Legendaris

“Untuk sementara kami menggunakan sistem double shift sambil menunggu asesmen gedung. Apalagi tanggal 2 Juni siswa sudah mulai ujian semester,” katanya.

Selain menerapkan double shift, pihak sekolah juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait kemungkinan penggunaan ruangan tambahan untuk pelaksanaan ujian.

Kebijakan itu diambil agar proses belajar siswa tetap berjalan aman dan nyaman.

Program trauma healing di SMAN 7 Mataram juga akan melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK).

Guru BK nantinya aktif memantau kondisi mental siswa pascainsiden gedung sekolah ambruk.

“Salah satunya mengurangi trauma dengan doa bersama dan memberikan informasi yang menenangkan,” jelas Ridha.

Sementara itu, Anggota DPRD NTB Rangga Danu Meinaga Adhitama meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi fisik sekolah di NTB.

Ia menyoroti penggunaan material atap berat seperti genteng beton yang dinilai berisiko terhadap keselamatan siswa.

Menurutnya, rehabilitasi sekolah di NTB sebaiknya mulai menggunakan material yang lebih ringan seperti genteng metal agar lebih aman jika terjadi kerusakan struktur bangunan.

Baca Juga: Dewan Kaget Pemkot Mataram Diam-diam Stop Izin Alfamart dan Indomaret

“Mungkin dari dinas harus turun mengecek seluruh kondisi sekolah di NTB supaya tidak ada bangunan yang luput dari pengawasan,” ujarnya.

Rangga menegaskan, rehabilitasi gedung sekolah harus menjadi prioritas pemerintah daerah meskipun dilakukan secara bertahap sesuai kondisi anggaran.

Sekolah dengan tingkat kerusakan paling berat harus segera mendapatkan penanganan demi keselamatan siswa.

 

 

Editor : Kimda Farida
#trauma siswa SMAN 7 Mataram #atap kelas ambruk #trauma healing siswa #double shift sekolah #sman 7 mataram