Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menggugah Selera, Merawat Masa Depan, Di Balik Dapur Inovatif SPPG Karang Bongkot

Siti Aeny Maryam • Minggu, 24 Mei 2026 | 07:31 WIB
SPPG Yayasan Batu Emas membuktikan bahwa makanan massal yang sehat tidak harus kehilangan jiwanya, yakni rasa yang lezat.
SPPG Yayasan Batu Emas membuktikan bahwa makanan massal yang sehat tidak harus kehilangan jiwanya, yakni rasa yang lezat.
LombokPost - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering kali dipandang sebatas rantai distribusi logistik pangan skala besar.

Namun, di tangan Yayasan Batu Emas yang mengelola Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) Karang Bongkot, program ini menjelma menjadi sebuah gerakan kebudayaan pangan: sebuah ikhtiar merawat masa depan generasi lewat cita rasa dan kehormatan di atas piring makan.

Sejak mengepulkan asap dapur pertamanya pada 29 September 2025, SPPG yang terletak di Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi ini memikul beban sejarah yang tidak ringan.

Baca Juga: Intip Strategi SPPG Yayasan Batu Emas, Jaga Selera Anak Sekolah Lewat Variasi Menu dan Mutu Ketat

Sebagai "dapur percontohan" pertama, ia adalah barometer. Di sinilah standar baku dirumuskan, membuktikan bahwa makanan massal yang sehat tidak harus kehilangan jiwanya, yakni rasa yang lezat.

Rahasia di balik ludesnya 2.615 porsi makanan setiap hari di SPPG Karang Bongkot terletak pada kerelaan untuk mendengarkan. Alih-alih memaksakan menu yang monoton dan berjarak dengan selera anak, Yayasan Batu Emas melakukan kurasi menu yang adaptif secara psikologis dan usia.

Mereka paham bahwa gizi terbaik adalah gizi yang tertelan, bukan yang tersisa di sudut tempat sampah. Ketika ompengan (wadah makanan) kembali ke dapur dalam keadaan kosong melompong, di sanalah misi kemanusiaan ini menemukan puncaknya. Target nutrisi tercapai bukan karena paksaan, melainkan karena kerelaan lidah para siswa yang berpesta.

Baca Juga: Yayasan Batu Emas Mulai Operasikan SPPG Banyumulek, Layani 1.438 Penerima Manfaat 

"Kami tidak main-main. Setiap butir nasi dan potongan lauk yang disajikan adalah hasil dari pengawasan ketat yang mengikuti arahan Badan Gizi Nasional (BGN)," tegas Pemimpin Yayasan Batu Emas, Muhazam, SP.

Bagi Muhazam, yang berlatar belakang arsitektur pertanian, estetika rasa harus berdiri di atas fondasi sains pangan yang kokoh. Oleh karena itu, SPPG Karang Bongkot mengonstruksi operasionalnya ke dalam tiga pilar disiplin.

Pertama, memastikan bahan baku tidak hanya segar, tetapi juga memiliki jejak sumber yang jelas dan berkualitas.

Kedua, mengolah makanan dengan teknik yang matang tanpa merusak struktur nutrisi di dalamnya.

Dan ketiga, menjaga suhu, kebersihan, dan ketepatan waktu agar makanan tiba di hadapan siswa dalam kondisi sehormat saat ia baru matang.

Di balik itu semua, benteng pertahanan terakhir adalah higienitas. Skala ribuan porsi ditaklukkan dengan standardisasi sanitasi kru dan sterilisasi ruang kerja yang ketat, memastikan makanan bebas kuman penyakit sesuai kaidah ilmu kesehatan modern.

Kini, denyut nadi SPPG Karang Bongkot telah menghidupi 22 institusi pendidikan lintas generasi, dari tawa polos anak-anak PAUD dan TK, riuhnya siswa SD dan SMPN 2 Labuapi, hingga remaja tingkat SMA. Wilayah jelajahnya merentang dari Desa Karang Bongkot, Perampuan Kuranji, Kuranji Dalang, hingga Telaga Waru.

Dengan menghadirkan menu yang berganti rupa setiap hari namun tetap konsisten dalam ledakan rasa, Yayasan Batu Emas telah berhasil mengubah wajah program MBG.

Makanan gratis ini tidak lagi diterima sebagai uluran tangan yang dingin, melainkan sebagai momen hangat yang paling dinantikan oleh ribuan pelajar di Kecamatan Labuapi.

Editor : Siti Aeny Maryam
#SPPG #EMAS #batu #Mbg #yayasan