LombokPost- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tanpa perundungan menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Mataram pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2026/2027. Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menegaskan seluruh sekolah harus memastikan kegiatan MPLS berlangsung aman, ramah, dan bebas dari praktik bullying.
Bersamaan dengan itu, Mohan juga mengajak para ayah untuk mengantar anak sekolah sebagai bentuk dukungan emosional pada awal perjalanan pendidikan mereka.
Pesan tersebut disampaikan Mohan saat menjadi pembina upacara pembukaan MPLS di SMPN 3 Mataram, Senin (13/7). Dihadapan ratusan siswa baru, ia meminta kepala sekolah, guru, dan kakak kelas menjadikan MPLS tanpa perundungan sebagai komitmen bersama agar seluruh peserta didik merasa aman dan nyaman beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Baca Juga: Lima SMA Negeri di Mataram Masih Sisakan Kuota, Dikpora NTB Minta Warga Tak Terpaku Sekolah Favorit
Menurut Mohan, hari pertama sekolah merupakan fase penting yang dapat memengaruhi kepercayaan diri dan semangat belajar siswa. Kehadiran ayah yang mengantar anak ke sekolah dinilai mampu memberikan rasa aman sekaligus memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
"Tadi sudah saya tekankan supaya tidak ada aktivitas bullying (perundungan). Saya minta para pendidik untuk bisa mengawasi itu karena tidak baik bagi mental anak-anak kita," tegas Mohan.
Ia menjelaskan, interaksi antara siswa baru dengan kakak kelas menjadi salah satu titik yang perlu mendapat perhatian selama MPLS. Tanpa pengawasan yang baik, perilaku negatif dapat dengan mudah ditiru dan berkembang menjadi tindakan perundungan.
Baca Juga: Job Fair ICCN NTB Diserbu 1.197 Pencari Kerja, Puluhan Perusahaan Buka Lowongan di UIN Mataram
Karena itu, Mohan meminta seluruh sekolah membangun budaya saling menghormati sehingga MPLS tanpa perundungan tidak berhenti sebagai slogan. Tetapi benar-benar menjadi budaya di lingkungan pendidikan Kota Mataram.
Selain peran sekolah, Mohan menilai keluarga memiliki tanggung jawab yang sama besar dalam membentuk karakter anak. Orang tua didorong terus memberikan motivasi dan pendampingan agar anak menjalani proses belajar dengan rasa percaya diri dan bahagia.
"Harus ada keluarga, tidak hanya ayah dan ibu, tetapi juga lingkungan terdekat yang terus memberikan motivasi agar mereka tumbuh dengan bahagia," ujarnya.
Ia berharap kebiasaan ayah mengantar anak sekolah tidak hanya dilakukan pada hari pertama masuk sekolah, tetapi menjadi bagian dari keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun karakter serta menjaga kesehatan mental peserta didik.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran di kelas. Tetapi juga oleh sinergi yang terjalin antara guru dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Melalui penguatan MPLS tanpa perundungan dan ajakan ayah mengantar anak sekolah, Pemerintah Kota Mataram berharap tercipta lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan karakter siswa. Kolaborasi sekolah dan keluarga diharapkan mampu melahirkan generasi yang sehat secara mental, berprestasi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Editor : Rury Anjas AnditaSumber : Lombok Post