LombokPost- Universitas Mataram (Unram) sebagai kampus inklusif kembali membuktikan komitmennya menghadirkan akses pendidikan tinggi yang setara bagi semua kalangan. Melalui kebijakan nyata, Unram memberikan dukungan penuh kepada mahasiswa disabilitas Muhammad Fatoni Ginan Nafsi agar dapat menempuh pendidikan tanpa terkendala biaya maupun fasilitas.
Komitmen Unram kampus inklusif tersebut ditunjukkan langsung oleh Rektor Unram Prof Sukardi yang didampingi Wakil Bupati Lombok Timur Moh Edwin Hadiwijaya saat mengunjungi kediaman Fatoni di Dusun Karang Luar, Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Jumat (31/7).
Dalam kunjungan itu, Prof Sukardi menyerahkan berbagai bentuk dukungan yang akan membantu Fatoni selama menjalani perkuliahan di Program Studi Teknik Industri Unram. Bantuan tersebut berupa pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT), fasilitas asrama mahasiswa, laptop untuk menunjang proses belajar, hingga upaya mencarikan orang tua asuh agar keberlangsungan studinya tetap terjamin.
Baca Juga: Komisi V DPRD NTB Dorong Siswa SMKN 4 Mataram Siap Kerja dan Berdaya Saing
Menurut Prof Sukardi, pendidikan tinggi merupakan hak seluruh warga negara tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang ekonomi. Karena itu, Unram kampus inklusif terus membuka kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk berkembang dan meraih cita-cita.
"Unram adalah kampus yang inklusif. Siapa pun berhak kuliah. Apalagi saya mendengar Fatoni memiliki prestasi yang baik. Yang terpenting adalah tetap semangat belajar dan terus berusaha meraih cita-cita," ujar Prof Sukardi.
Bagi Fatoni, diterima di Teknik Industri Unram merupakan langkah besar untuk mengubah masa depan. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi sekaligus membalas dukungan orang-orang yang selama ini membantunya.
Baca Juga: NTB Gandeng Universitas Brawijaya Cetak Petani Milenial, Pertanian Modern Jadi Fokus
"Walaupun saya memiliki keterbatasan fisik, itu tidak membatasi semangat saya untuk menimba ilmu. Justru menjadi motivasi bagi saya untuk membuktikan bahwa saya bisa mewujudkan cita-cita," katanya.
Perjalanan Fatoni menuju bangku kuliah tidak mudah. Sejak lahir ia kehilangan ibunya yang meninggal saat proses persalinan. Sementara sang ayah kini masih menjalani perawatan dalam kondisi koma. Ditengah berbagai cobaan tersebut, semangat belajarnya tidak pernah surut.
Dukungan yang diberikan Unram menjadi titik balik bagi Fatoni. Pembebasan biaya kuliah, penyediaan asrama, bantuan laptop hingga rencana pencarian orang tua asuh membuat beban yang selama ini dipikulnya terasa jauh lebih ringan.
Baca Juga: Dana BOS Kini Bisa untuk Honor PPPK di NTB, Tambahan Rp 500 Ribu per Bulan
"Ketika mendengar semua dukungan itu, saya sampai meneteskan air mata. Bukan karena sedih, tetapi karena seperti ada beban yang selama ini saya pikul tiba-tiba terangkat," ungkapnya.
Fatoni mengaku sempat diliputi kekhawatiran menghadapi dunia perkuliahan. Namun perhatian yang diberikan kampus membuatnya semakin percaya diri menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
"Saya berharap perjalanan sebagai mahasiswa Unram menjadi pengalaman yang luar biasa. Dukungan dari kampus membuat saya semakin yakin untuk terus belajar dan berkembang. Pesan saya, tetap semangat dan jangan biarkan keterbatasan menghalangi kita untuk bermimpi," ujarnya.
Baca Juga: Siswa SMPN 2 Mataram Borong Tiga Medali Porprov NTB, Rafa Raih Emas Renang
Kepala Dusun Karang Luar Mugni Labib mengatakan, Fatoni telah menunjukkan mental yang kuat sejak kecil. Menurutnya, keterbatasan fisik tidak pernah membuat Fatoni merasa rendah diri ataupun menyerah mengejar impiannya.
"Dari kecil mentalnya kuat. Dia tidak pernah merasa rendah diri. Apa pun yang ingin dicapai selalu diusahakan. Dia anak yang gigih dan tidak pernah menyerah," kata Mugni.
Ia menjelaskan, selama bersekolah Fatoni selalu mendapatkan dukungan dari teman-temannya yang bergantian mengantar dan menjemput ke sekolah. Semangat pantang menyerah itulah yang membuat masyarakat sekitar yakin Fatoni memiliki masa depan yang cerah.
Baca Juga: Ayubi Ardan Lolos OSN Informatika, Siswa MAN 2 Mataram Siap Wakili Kota Mataram di Tingkat Provinsi
Selain aktif dalam pendidikan, Fatoni juga mengembangkan keterampilan dibidang seni dan desain. Bahkan ia dipercaya membantu mengoperasikan peralatan produksi kerajinan berbahan kayu milik Mugni. Kemampuan tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas mampu berkarya dan memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Melalui langkah nyata ini, Unram sebagai kampus inklusif tidak hanya membuka akses pendidikan bagi mahasiswa disabilitas, tetapi juga memastikan mereka memperoleh dukungan akademik, fasilitas, dan pendampingan agar mampu berkembang secara optimal. Komitmen Unram tersebut sekaligus memperkuat upaya menghadirkan pendidikan tinggi yang adil, setara, dan bebas diskriminasi.
Program Unram kampus inklusif juga selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 10 mengenai Berkurangnya Kesenjangan. Serta SDG 16 yang mendorong tata kelola pendidikan yang inklusif, adil, dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post