LombokPost- Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) terus diperkuat sebagai fondasi pendidikan di lingkungan madrasah. Penerapan KBC tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Kurikulum ini juga menanamkan kasih sayang, karakter, dan keteladanan guru untuk membentuk generasi berakhlak serta berdaya saing.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mataram Hamdun menegaskan, ruh pendidikan terletak pada cinta yang ditunjukkan pendidik dalam proses pembelajaran. Menurutnya, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu. Guru juga harus menghadirkan keteladanan yang mampu membentuk karakter peserta didik.
Ia mengibaratkan guru seperti gelas yang hanya dapat menumpahkan isinya. Jika gelas itu menyimpan kasih sayang, nilai itulah yang akan diterima para siswa.
Baca Juga: Siswi SMAN 1 Labuapi Juara I Mandalika Championship, Latihan Disiplin Antar Siska ke Podium
“Kalau isinya air, yang tumpah adalah air. Kalau di dalamnya cinta, maka yang muncul adalah cinta. Keteladanan guru juga menjadi cinta,” ujarnya saat Workshop KBC, belum lama ini.
Karena itu, Hamdun menilai setiap guru madrasah harus memahami filosofi KBC sebelum menerapkannya di ruang kelas. Pemahaman itu menjadi modal utama agar pembelajaran tidak sekadar mentransfer pengetahuan. Guru juga harus menanamkan nilai kemanusiaan dan kepedulian kepada peserta didik.
Menurutnya, penerapan KBC menuntut profesionalisme tinggi dari setiap pendidik. Guru harus mampu memisahkan persoalan pribadi dari tugas mengajar. Dengan begitu, seluruh perhatian tercurah untuk memberikan pembelajaran terbaik kepada siswa.
Baca Juga: Dua Siswa MTsN 2 Lombok Barat Lolos Jamnas Pramuka 2026, Siap Harumkan Nama NTB
“Apa pun masalah di luar, ketika masuk ke madrasah, sudah lepas itu semua. Fokus kepada pengajaran yang berbasis cinta, sehingga transfer ilmu itu benar-benar memiliki ruh,” tegasnya.
Dalam praktik sehari-hari, KBC diwujudkan melalui pembiasaan nilai positif di lingkungan madrasah. Mulai dari budaya antre saat jam istirahat, adab makan bersama, kedisiplinan berdoa, hingga sikap saling menghormati.
Hamdun menekankan, seluruh pembiasaan itu harus diawali dengan keteladanan guru. Guru tidak cukup hanya memberikan instruksi. Mereka juga harus menjadi contoh dalam bersikap, bertutur kata, dan berinteraksi dengan peserta didik.
Baca Juga: Unram Tetapkan 29 Penerima Hibah Penelitian Talenta Muda 2026, Bidik Publikasi Scopus Q2
“Tujuan akhir dari KBC ini sangat mulia, yakni menumbuhkan rasa cinta kepada Tuhan, cinta kepada negara, dan cinta kepada ilmu pengetahuan,” katanya.
Melalui penerapan KBC, Hamdun optimistis madrasah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik. Mereka juga diharapkan memiliki karakter kuat, kecerdasan spiritual, serta kepedulian sosial.
Dengan keteladanan guru sebagai fondasi utama, Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan memperkuat transformasi pendidikan madrasah yang berorientasi pada pembentukan insan berakhlak mulia.
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post