Bank Sampah MTsN 3 Mataram, Siswa Ubah Sampah Jadi Nilai Ekonomi

Jay • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:50 WIB
BANK SAMPAH: Siswa MTsN 3 Mataram yang tergabung dalam Orsima koordinasi dengan Bank Sampah Lisan untuk mendistribusikan sampah plastik di madrasah setempat, Rabu (12/8).
BANK SAMPAH: Siswa MTsN 3 Mataram yang tergabung dalam Orsima koordinasi dengan Bank Sampah Lisan untuk mendistribusikan sampah plastik di madrasah setempat, Rabu (12/8).

 

LombokPost- MTsN 3 Mataram terus memperkuat pendidikan karakter melalui gerakan peduli lingkungan. Salah satu inovasinya adalah Bank Sampah MTsN 3 Mataram yang tidak hanya menjaga kebersihan madrasah, tetapi juga mengajarkan siswa mengubah sampah menjadi nilai ekonomi.

Program Bank Sampah itu menjadi bagian dari edukasi lingkungan yang melatih siswa memilah sampah secara mandiri. Sampah yang mudah terurai dipisahkan dari sampah anorganik, terutama botol dan gelas plastik yang dikumpulkan dari setiap ruang kelas.

Pengelolaan Bank Sampah melibatkan siswa yang tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Madrasah (Orsima). Mereka bertugas memastikan sampah plastik yang terkumpul tidak berakhir berserakan di lingkungan madrasah.

Baca Juga: Siswa SMKPPN Mataram Belajar Urban Farming, Rukola Tembus Rp 50 Ribu per Kilogram

Kepala MTsN 3 Mataram Marzuki mengatakan, sejak awal dirinya mendorong siswa agar persoalan sampah tidak hanya diselesaikan dari sisi kebersihan. Sampah plastik juga harus memiliki manfaat ekonomi bagi siswa.

Tantangan itu kemudian diwujudkan melalui Bank Sampah. Untuk mengoptimalkan pengelolaannya, madrasah menjalin kemitraan dengan Bank Sampah Lisan. Sampah plastik yang telah terkumpul dalam jumlah tertentu akan dijemput untuk kemudian diproses dan dijual.

“Hasil penjualan sampah dikonversi menjadi nilai ekonomi yang langsung dialokasikan untuk kas Orsima guna mendanai berbagai program kegiatan siswa,” ujar Marzuki.

Baca Juga: Madrasah Mataram Makin Digital, Pengawasan Guru dan Siswa Diperkuat

Konsep sampah menjadi nilai ekonomi membuat program itu tidak berhenti sebagai gerakan bersih-bersih. Siswa mendapatkan pengalaman langsung bahwa menjaga lingkungan juga dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung kegiatan mereka di madrasah.

Menurut Marzuki, edukasi itu diharapkan membentuk kebiasaan positif selama siswa menjalani tiga tahun masa belajar. Kebiasaan memilah dan membuang sampah pada tempatnya diharapkan tumbuh secara alami melalui praktik yang dilakukan setiap hari.

Dampaknya mulai terlihat. Lingkungan MTsN 3 Mataram kini jauh lebih bersih karena sampah plastik tidak lagi ditemukan berserakan. Pemilahan sampah juga telah menjadi bagian dari kebiasaan siswa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: HP Siswa di Sekolah Mataram Mulai Dibatasi, Aturan Baru Perkuat Kebijakan Daerah

“Pemilahan sampah kini telah berjalan natural berkat kedisiplinan yang terbentuk setiap hari,” tuturnya.

Keberhasilan Bank Sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan. Program itu juga ikut mengangkat reputasi madrasah. Saat Kementerian Agama (Kemenag) melakukan penilaian melalui dokumentasi video mengenai keasrian lingkungan madrasah, MTsN 3 Mataram mendapat apresiasi dan masuk dalam jajaran madrasah bersih.

Bagi MTsN 3 Mataram, kata Marzuki, capaian itu menjadi bukti pendidikan karakter dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Bank Sampah menjadi sarana bagi siswa untuk belajar disiplin, peduli lingkungan, bekerja dalam organisasi, sekaligus memahami nilai ekonomi dari sampah.

Editor : Akbar Sirinawa
Bank Sampah MTsN 3 Mataram sampah menjadi nilai ekonomi edukasi lingkungan Pendidikan Karakter Siswa bank sampah