Unram Bantu Peternak Kerta Bangkit Atasi Kekurangan Pakan Lewat Teknologi Fermentasi

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:20 WIB
Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 menyerahkan mesin pencacah hijauan dan tong fermentasi kepada perwakilan Kelompok Ternak Kerta Bangkit di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. (IST/LOMBOK POST)
Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 menyerahkan mesin pencacah hijauan dan tong fermentasi kepada perwakilan Kelompok Ternak Kerta Bangkit di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost-Tim pengabdian Universitas Mataram (Unram) memberdayakan Kelompok Ternak Kerta Bangkit di Dusun Kertaraharja, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026.

Program ini terlaksana melalui dukungan pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, di bawah kepemimpinan Prof I Ketut Adnyana, selaku direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

“Kami menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi atas dukungan serta fasilitasi yang diberikan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026,” jelas Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Peternakan Unram Ica Ayu Wandira.

Baca Juga: AMMAN Bawa AI Ready ASEAN ke Unram, Literasi AI NTB Naik Kelas

Karenanya, rangkaian kegiatan berupa transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, pelatihan pembuatan pakan fermentasi, serta penyerahan sarana pengolahan pakan kepada Kelompok Ternak Kerta Bangkit dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh peternak.

Program yang mengangkat tema Pemberdayaan Kelompok Ternak Kerta Bangkit melalui Teknologi Fermentasi Pakan Berbasis Bahan Lokal untuk Mengatasi Kekurangan Pakan di Lombok Utara ini, difokuskan pada penerapan teknologi pakan fermentasi berbasis sumber daya lokal.

Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mengolah pakan, tim pengabdian, juga menyerahkan mesin pencacah hijauan dan tong fermentasi sebagai sarana pendukung agar teknologi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara mandiri oleh kelompok.

Kelompok Ternak Kerta Bangkit yang memelihara kambing Peranakan Etawa (PE) selama ini, hanya mengandalkan hijauan segar sebagai sumber pakan utama.

“Kondisi ini menyebabkan ketersediaan pakan sangat dipengaruhi musim,” terangnya.

Baca Juga: 100 Persen Pulih Pasca Gempa, Jaringan Telkomsel di Flores Kembali Normal

Seperti pada musim kemarau, jumlah hijauan semakin terbatas sehingga peternak membutuhkan alternatif pengelolaan pakan yang dapat menjamin ketersediaannya, secara lebih berkelanjutan.

Persoalan lainnya, terang Prof Adnyana, adalah pemberian hijauan dalam bentuk utuh yang menyebabkan sebagian batang tanaman tua dan keras tidak dikonsumsi ternak.

Padahal, wilayah sekitar kelompok memiliki berbagai sumber bahan pakan lokal, seperti rumput odot, gamal, lamtoro, kulit kopi, kulit kakao, dan dedak padi yang dapat diolah menjadi pakan yang lebih mudah dimanfaatkan ternak.

“Untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut, tim pengabdian memperkenalkan teknologi pakan fermentasi semi-moist feed berbasis bahan lokal,” jelasnya.

Teknologi ini memungkinkan berbagai bahan pakan yang tersedia di sekitar peternakan dicacah, dicampur, dan difermentasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif cadangan pakan, terutama ketika ketersediaan hijauan segar menurun.

Peternak dilibatkan secara langsung dalam praktik pembuatan pakan, mulai dari pemilihan bahan, pencacahan hijauan menggunakan mesin, pencampuran bahan, penambahan bahan pendukung fermentasi, hingga penyimpanan dalam tong fermentasi selama sekitar 14 hari.

Baca Juga: Cegah Penyakit Menular, Satpol PP NTB Perketat Pengawasan Ternak di Pelabuhan Lembar

Pendekatan praktik langsung dilakukan agar peternak tidak hanya memahami teknologi secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan untuk memproduksi pakan secara mandiri.

Salah satu bentuk dukungan nyata program adalah penyerahan sarana pengolahan pakan kepada Kelompok Ternak Kerta Bangkit, terutama berupa mesin pencacah hijauan dan tong fermentasi.

Sarana tersebut menjadi bagian penting dari penerapan teknologi karena sebelumnya kelompok belum memiliki peralatan yang memadai untuk memproduksi pakan fermentasi dalam skala kelompok.

Penyerahan peralatan disertai demonstrasi dan praktik pengoperasian, sehingga peternak memahami cara menggunakan dan merawat alat dengan benar.

“Mesin pencacah digunakan untuk memperkecil ukuran hijauan agar lebih mudah dicampurkan dan dikonsumsi ternak, sedangkan tong fermentasi digunakan sebagai wadah proses fermentasi sekaligus penyimpanan pakan,” bebernya.

Hasil evaluasi menunjukkan 100 persen kebutuhan sarana utama pengolahan pakan yang direncanakan telah terpenuhi, sementara sekitar 90 persen peserta telah mampu mengoperasikan peralatan dengan benar dan membuat pakan fermentasi secara mandiri.

Baca Juga: Gubernur NTB dan Kepala BRIN Sepakati Kolaborasi Riset Air Bersih, Perikanan, hingga Pakan Ternak

Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya berupa aset fisik, tetapi juga dibarengi peningkatan kemampuan peternak dalam memanfaatkan teknologi tersebut. 

Penerapan teknologi fermentasi ini diharapkan membantu Kelompok Ternak Kerta Bangkit mengurangi ketergantungan terhadap hijauan segar, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Bahan pakan yang tersedia di lingkungan sekitar, dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dan diolah menjadi cadangan pakan.

Melalui kombinasi pelatihan, praktik langsung, pendampingan, serta penyerahan mesin pencacah dan tong fermentasi, Program Pengabdian kepada Masyarakat ini diarahkan untuk membangun kemandirian kelompok.

Sarana yang diberikan diharapkan terus digunakan sebagai aset produktif bersama sehingga kelompok mampu memproduksi pakan fermentasi sesuai kebutuhan ternak.

Keberlanjutan penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian penting dari pemberdayaan. Peternak tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi menjadi pelaku utama yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sarana untuk mengelola sumber daya pakan lokal secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
kelompok ternak Unram pengabdian masyarakat peternak Fermentasi