125 Guru di NTB Ikuti UKBI, IGI Dorong Ada Standar Kemahiran Bahasa

Jay • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 16:26 WIB
FOTO BERSAMA: Pengurus IGI NTB foto bersama pihak Balai Bahasa NTB, BGTK NTB, dan peserta Bimtek UKBI di Aula BGTK NTB, Kamis (27/8).
FOTO BERSAMA: Pengurus IGI NTB foto bersama pihak Balai Bahasa NTB, BGTK NTB, dan peserta Bimtek UKBI di Aula BGTK NTB, Kamis (27/8).

LombokPost- Kemampuan berbahasa Indonesia guru menjadi perhatian Ikatan Guru Indonesia (IGI) NTB. Sebanyak 125 guru SMP dan SMA di NTB mengikuti Bimbingan Teknis Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang digelar IGI Wilayah NTB bersama Balai Bahasa Provinsi NTB.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 27–28 Agustus 2026 di Aula BGTK Provinsi NTB itu tidak sekadar menjadi ajang mengukur kemahiran berbahasa Indonesia guru. IGI NTB juga mendorong agar UKBI menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.

Ketua IGI NTB Nengah Istiqomah mengatakan, kemampuan bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam profesi guru. Sebab, hampir seluruh aktivitas pembelajaran membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik, mulai dari menyampaikan materi hingga memberikan umpan balik kepada siswa.

Baca Juga: Mahasiswa Unram Berangkat ke NTT, Lanjutkan Misi Kemanusiaan

“Guru setiap hari berkomunikasi, menyampaikan gagasan, menjelaskan konsep, menulis bahan ajar, memberikan umpan balik, menyusun administrasi pembelajaran, serta menjadi teladan dalam berbahasa,” katanya.

Istiqomah menegaskan, UKBI bagi guru tidak semestinya hanya dipandang sebagai tes untuk memperoleh nilai maupun sertifikat. Lebih dari itu, UKBI dapat digunakan guru sebagai alat untuk mengetahui kemampuan berbahasa sekaligus mengevaluasi kompetensi diri.

Hasil UKBI, lanjut dia, dapat membantu guru melihat kekuatan dan aspek yang masih perlu ditingkatkan. Dengan begitu, guru memiliki dasar untuk menentukan langkah pengembangan kompetensi berikutnya.

Baca Juga: SMKN 4 Mataram Siapkan LSP P1, Sertifikasi Kompetensi Siswa Diperkuat

“UKBI tidak semata-mata kita pandang sebagai sebuah tes untuk memperoleh nilai atau sertifikat. Lebih dari itu, UKBI dapat menjadi alat evaluasi diri, validasi kompetensi, sarana meningkatkan profesionalisme, serta bagian dari pengembangan personal branding seorang guru,” jelasnya.

Bagi IGI NTB, penguatan kemahiran berbahasa Indonesia guru juga berkaitan erat dengan kualitas pembelajaran. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi sekaligus menjadi model penggunaan bahasa bagi peserta didik. Semakin baik kemampuan bahasa guru, semakin besar pula peluang terciptanya komunikasi pembelajaran yang efektif. Dampaknya diharapkan ikut memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah.

Dorongan peningkatan kemahiran berbahasa guru di NTB juga tidak terlepas dari perhatian IGI terhadap kondisi literasi. Istiqomah mengaku prihatin dengan berbagai informasi mengenai literasi yang masih membutuhkan perhatian serius.

Baca Juga: Berkat Juara Internasional Santri Trensains Tebuireng Asal NTB Dapat Apresiasi Gubernur Jatim

Menurutnya, persoalan literasi tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Guru, sekolah, pemerintah, lembaga kebahasaan, hingga pemangku kepentingan pendidikan perlu bergerak bersama.

Istiqomah mengapresiasi Balai Bahasa Provinsi NTB yang aktif melakukan pemasyarakatan bahasa Indonesia dan pengukuran kemahiran berbahasa, termasuk dengan mendatangi sekolah untuk memberikan UKBI kepada siswa. Namun, langkah tersebut menurutnya perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan bahasa para guru.

“Kami khawatir jangan sampai UKBI anak-anak kita lebih tinggi daripada gurunya,” ungkapnya.

Baca Juga: 47 Dokter Baru FK Unizar Diambil Sumpah, 14 Raih Cumlaude

Karena itu, UKBI guru NTB menjadi salah satu langkah yang didorong IGI untuk memberi kesempatan kepada pendidik mengukur sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia.

Istiqomah menegaskan, kebutuhan terhadap kemahiran berbahasa Indonesia tidak hanya berlaku bagi guru mata pelajaran bahasa. Seluruh guru tetap membutuhkan kemampuan tersebut dalam menjalankan tugas profesionalnya. Guru matematika, IPA, IPS, seni, kejuruan, maupun mata pelajaran lainnya tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menjelaskan materi, memberikan instruksi, menyusun bahan ajar, serta berkomunikasi dengan peserta didik.

Respons terhadap program tersebut juga dinilai cukup tinggi. Pada Mei 2026, IGI NTB telah melakukan penjaringan peserta UKBI. Guru dari berbagai kabupaten/kota di NTB menunjukkan antusiasme mengikuti program tersebut. Dari proses tersebut, IGI NTB kemudian berkoordinasi dengan Balai Bahasa NTB hingga terlaksana Bimtek UKBI bagi 125 guru pada 27–28 Agustus 2026.

Baca Juga: Mahasiswa UMMAT Ikuti I-LISS 2026, Perkuat Wawasan Perpustakaan Digital

IGI NTB tidak ingin manfaat kegiatan berhenti pada 125 guru peserta. Istiqomah berharap peserta Bimtek UKBI dapat menjadi pionir yang menyebarluaskan pengetahuan dan pengalaman kepada guru lain di lingkungan masing-masing.Peserta juga diharapkan dapat berkembang menjadi narasumber sekaligus penggerak budaya berbahasa di sekolah.

“Saya yakin ibu/bapak akan menjadi pionir dan kelak menjadi narasumber,” ujarnya.

Dengan begitu, Bimtek UKBI guru NTB diharapkan memberikan dampak yang lebih luas. Pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dan kemudian dibagikan kepada rekan sejawat maupun peserta didik.

Baca Juga: Unram Kerahkan 61 Personel dan Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Lebih jauh, Istiqomah memiliki harapan agar suatu saat terdapat standar kemahiran berbahasa bagi guru di NTB. Standar tersebut dinilai penting agar guru memiliki gambaran yang jelas mengenai tingkat kemampuan bahasa yang dimiliki.Dengan adanya standar kemahiran, guru dapat mengetahui posisi kompetensinya dan menentukan pengembangan diri secara lebih terarah.

“Saya punya mimpi, kapan guru-guru kita punya grade, punya standar. Oh, layak nih mengajar dan berinteraksi untuk anak-anak NTB,” ujarnya.

Gagasan tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Guru sebagai pendidik tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan jelas di tengah derasnya arus informasi.

Baca Juga: Dosen Unram Bawa Nama Indonesia ke Forum Global Pencegahan Tenggelam

Pelaksanaan Bimtek UKBI di NTB juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara IGI Wilayah NTB dan Balai Bahasa Provinsi NTB. Kerja sama tersebut menjadi landasan untuk memperkuat program di bidang kebahasaan, peningkatan kompetensi guru, dan penguatan literasi di NTB.

Setelah penandatanganan MoU, kegiatan dilanjutkan dengan sesi teknis. Peserta mendapatkan materi kebahasaan dari narasumber Balai Bahasa Provinsi NTB.

Pada hari pertama, materi meliputi ejaan serta bentuk dan pilihan kata. Sementara hari kedua diisi materi kalimat dan paragraf, dilanjutkan praktik serta pengenalan UKBI adaptif. Bagi IGI NTB, kemahiran berbahasa Indonesia guru bukan tujuan akhir dari Bimtek UKBI. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas kolaborasi dengan Balai Bahasa NTB.

Baca Juga: Siswi SMAN 3 Mataram Raih Perunggu Voli Indoor Porprov NTB 2026

Kedepan, kegiatan serupa diharapkan dapat menjangkau lebih banyak guru. Semakin banyak guru yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik, semakin besar pula peluang penguatan literasi siswa dilakukan secara sistematis dari ruang kelas.

“Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun budaya bahasa Indonesia yang semakin baik di lingkungan sekolah,” harap Istiqomah.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
UKBI guru NTB 125 guru NTB UKBI NTB kemahiran berbahasa Indonesia guru kemampuan bahasa Indonesia guru