LombokPost- SMAN 9 Mataram terus memperkuat penerapan Sekolah Ramah Anak (SRA). Predikat SRA yang diterima dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menjadi pijakan bagi sekolah untuk memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi.
Bagi SMAN 9 Mataram, SRA bukan sekadar predikat atau penghargaan yang dipajang di dinding sekolah. Konsep tersebut diterapkan dalam keseharian untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan, perundungan, tekanan, serta pengaruh buruk narkoba.
Predikat SRA SMAN 9 Mataram dianugerahkan KemenPPPA di Jakarta pada periode 2022/2023. Sejak saat itu, sekolah terus menyosialisasikan program SRA kepada warga sekolah sekaligus masyarakat.
Baca Juga: SRMP 18 Lobar Ikut Gerakan Menanam Cabai, Siswa Turun Langsung Rawat Tanaman
Kepala SMAN 9 Mataram Nengah Istiqomah menegaskan, status sebagai SRA bukan berarti sekolah terbebas dari berbagai persoalan siswa. Menurutnya, ukuran keberhasilan SRA justru terlihat dari kemampuan sekolah menangani persoalan anak secara tepat dan tuntas. Hal itu berlaku bagi siswa pada umumnya maupun siswa inklusi yang memiliki kebutuhan khusus.
Dalam menghadapi dinamika siswa, SMAN 9 Mataram mengedepankan sinergi antara Tim Disiplin Positif (Dispo), guru mata pelajaran, wali kelas, hingga guru Bimbingan Konseling (BK). Setiap persoalan siswa diupayakan diselesaikan dengan pendekatan yang tetap memperhatikan hak dan kepentingan terbaik anak.
“Jika siswa terjerat kasus hukum berat atau kriminalitas di luar sekolah, hak pendidikan mereka tetap diperjuangkan,” tegas Nengah.
Baca Juga: Banyak Kasek Masih Plt, Disdik Mataram Jelaskan Kendalanya
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pendampingan terhadap siswa yang menghadapi persoalan serius. SMAN 9 Mataram bahkan menggandeng 16 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan sejumlah lembaga terkait. Kemitraan tersebut melibatkan kepolisian, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3), Dinas Kesehatan, hingga Badan Narkotika Nasional (BNN).
Salah satu pengalaman yang menjadi bukti penerapan SRA di SMAN 9 Mataram yakni ketika sekolah mengawal hak belajar seorang siswa yang mengalami kecelakaan lalu lintas fatal hingga harus menjalani penahanan di lembaga khusus anak. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan. Sekolah tetap memastikan siswa tersebut mendapatkan hak pendidikan hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan.
“Bagi sekolah, persoalan yang dihadapi siswa tidak boleh otomatis memutus akses mereka terhadap pendidikan,” jelasnya.
Baca Juga: 125 Guru di NTB Ikuti UKBI, IGI Dorong Ada Standar Kemahiran Bahasa
Meski komitmen terhadap SRA terus diperkuat, SMAN 9 Mataram masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya menyangkut ketersediaan fasilitas penunjang SRA. Keterbatasan dana BOS membuat sekolah harus melakukan pembenahan fasilitas secara bertahap. Salah satu yang menjadi perhatian adalah ketersediaan toilet dengan rasio ideal sesuai kebutuhan siswa. Dari sebelumnya 33 unit toilet, SMAN 9 Mataram kini telah menambah 10 unit toilet baru melalui bantuan khusus.
“Pembenahan fasilitas sanitasi tersebut menjadi bagian dari upaya kami menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh siswa,” terangnya.
Tantangan lain yang dihadapi sekolah adalah pembinaan karakter siswa, terutama ketika memasuki tahun ajaran baru. Siswa kelas X menjadi salah satu perhatian karena membawa kebiasaan dari jenjang pendidikan sebelumnya. Sekolah perlu melakukan penyesuaian sekaligus pembinaan agar kebiasaan yang kurang baik tidak terbawa ke lingkungan sekolah. Salah satu persoalan yang diantisipasi adalah penggunaan rokok elektrik atau vape di kalangan siswa. Untuk mencegah persoalan tersebut berkembang, Nengah mendorong keterlibatan orang tua dalam pengawasan siswa di rumah.
Baca Juga: Mahasiswa Unram Berangkat ke NTT, Lanjutkan Misi Kemanusiaan
“Kolaborasi sekolah dan keluarga dinilai penting dalam membangun karakter sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman,” ucapnya.
Penerapan SRA SMAN 9 Mataram juga tidak hanya mengandalkan peran guru dan tenaga kependidikan. Siswa dilibatkan secara aktif sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak. Sekolah memaksimalkan peran siswa melalui tim 2P, yakni Pelopor dan Pelapor. Tim tersebut menjadi salah satu instrumen untuk mendorong kepedulian siswa terhadap kondisi lingkungan sekolah.
Keterlibatan siswa sebagai agen perubahan diharapkan membuat penerapan SRA berjalan lebih mandiri. Siswa tidak hanya menjadi objek perlindungan, tetapi juga ikut berperan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Dengan berbagai langkah tersebut, SMAN 9 Mataram berupaya memastikan SRA benar-benar hadir dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Baca Juga: SMK Go Global Buka Peluang Kerja Luar Negeri bagi Lulusan NTB
Bukan hanya soal predikat, SRA SMAN 9 Mataram diarahkan menjadi budaya sekolah yang melindungi hak pendidikan siswa, mencegah kekerasan dan perundungan, serta memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang secara aman dan optimal.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post