LombokPost- Pemulihan Desa Adat Sade pascakebakaran tidak hanya akan difokuskan pada pembangunan kembali bangunan yang terdampak. Universitas Mataram (Unram) bersama Pemprov NTB dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyiapkan masterplan pemulihan Desa Adat Sade dengan tetap mempertahankan identitas, kehidupan sosial-budaya, serta perekonomian masyarakat.
Masterplan itu diberi nama Sade Integrated Recovery and Reconstruction Masterplan. Dokumen ini akan menjadi kerangka pemulihan dan rekonstruksi kawasan Desa Adat Sade secara terpadu, berbasis data dan kebutuhan masyarakat.
Pemulihan Desa Adat Sade harus dilakukan secara terencana dan partisipatif. Rekonstruksi juga harus tetap berpijak pada karakter Sade sebagai permukiman tradisional yang memiliki nilai budaya sekaligus menjadi salah satu daya tarik pariwisata.
Baca Juga: Mahasiswa Jerman PPL di SMAN 3 Mataram, Empat Bulan Mengajar hingga Belajar Budaya Indonesia
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan, rehabilitasi dan rekonstruksi Desa Adat Sade harus diarahkan menjadi contoh pembangunan kembali desa tradisional yang lebih baik. Sade tidak sekadar dikembalikan seperti sebelum kebakaran. Kawasan itu diharapkan menjadi desa adat yang lebih tangguh menghadapi berbagai risiko bencana di masa depan.
Masterplan pemulihan Desa Adat Sade akan mencakup sejumlah aspek penting. Di antaranya sosial dan budaya, ekonomi dan livelihood, spasial dan fisik, ketahanan bencana dan keselamatan kebakaran, serta infrastruktur dan utilitas. Seluruh aspek itu akan dirancang secara terintegrasi.
Sebagai langkah awal, tim Unram mulai melakukan pemetaan, survei, dan dokumentasi kawasan. Data itu akan menjadi dasar dalam penyusunan masterplan Desa Adat Sade. Pemetaan mencakup kepemilikan, luasan dan denah masing-masing bale, kondisi bangunan, serta elemen kawasan lainnya.
Baca Juga: Siswa SRMP 18 Lobar Juara OSN IPS, Aulia Khairunnisa Tembus Podium Pertama
Tim juga mendata berbagai benda dan artefak yang masih tersisa pascakebakaran. Di antaranya kain dan pakaian tenun, tembikar, serta benda-benda lain yang masih bisa diselamatkan. Pendataan artefak itu berkaitan dengan rencana pembentukan museum temporer.
Ketua Tim Cepat Tanggap (TCT) Sade Unram Rini Srikus Saptaningtyas mengatakan, tim Unram mulai bergerak melakukan pemetaan, survei, dan dokumentasi sebagai bagian dari tahap awal penyusunan masterplan. Kegiatan itu melibatkan mahasiswa Unram dari bidang terkait dengan pendampingan dosen arsitektur dan planologi.
“Pemetaan dan pendataan menjadi langkah awal agar setiap keputusan dalam proses pemulihan memiliki dasar informasi yang jelas. Pada saat yang sama, karakter, nilai budaya, serta kebutuhan masyarakat Sade harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses perencanaan,” ujarnya.
Baca Juga: Gaji PPPK Paro Waktu Berpotensi Diambil Alih Pusat, APBD Mataram Bisa Lebih Longgar
Partisipasi masyarakat menjadi salah satu prinsip utama dalam rekonstruksi Desa Adat Sade. Setiap tahapan pembangunan akan diupayakan melalui musyawarah bersama. Dengan pola ini, masyarakat juga menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan pemulihan Desa Adat Sade.
Pemprov NTB telah menunjuk Asisten II sebagai koordinator proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Kepala desa dan kepala dusun menjadi perwakilan masyarakat Sade. Sementara itu, tim UGM memberikan supervisi dalam penyusunan masterplan. Tim Unram berperan dalam kajian, pemetaan, pendataan, hingga penyusunan rencana teknis.
Sade Integrated Recovery and Reconstruction Masterplan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu bulan. Dokumen itu nantinya menjadi acuan bersama untuk mengarahkan rehabilitasi dan rekonstruksi Desa Adat Sade agar lebih terkoordinasi, berbasis data, serta sesuai kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Lombok Post