LombokPost- Kehadiran mahasiswa Jerman di SMAN 3 Mataram (Smanti) membawa warna baru dalam proses pembelajaran.
Maxmillian Joas, mahasiswa asal Jerman saat ini menjalani program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah tersebut.
Program PPL mahasiswa Jerman di Smanti itu juga mendapat perhatian Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB.
Pihak sekolah bersama Joas melakukan kunjungan ke Dikpora NTB untuk memperkuat kolaborasi pendidikan lintas budaya.
Rombongan yang dipimpin Kepala SMAN 3 Mataram Yuspita Martiningrum tersebut diterima Sekretaris Dikbud NTB Bowo Soesatyo di ruang kerjanya.
Kunjungan itu menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas budaya sekaligus memperluas wawasan global bagi pendidik dan siswa di NTB.
Baca Juga: Unram Perkuat Kerja Sama dengan China, Bidik Magang hingga Riset Bersama
Kepala SMAN 3 Mataram Yuspita Martiningrum mengatakan, kehadiran Maxmillian Joas merupakan bagian dari program pertukaran budaya sekaligus upaya meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa asing.
Menurutnya, keberadaan mahasiswa Jerman di Smanti memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Mereka dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari negara lain sekaligus mengenal bahasa dan budaya internasional.
“Kehadiran Joas di SMAN 3 Mataram tidak hanya membantu siswa dalam mengasah kemampuan berbahasa asing, tetapi juga membuka ruang interaksi budaya secara nyata. Kami ingin mengenalkan ekosistem pendidikan kita sekaligus memperlihatkan bagaimana proses pembelajaran di NTB berlangsung,” ujar Yuspita.
Interaksi langsung tersebut menjadi salah satu nilai penting dari program internasional SMAN 3 Mataram.
Siswa tidak hanya mempelajari bahasa asing melalui buku atau materi pembelajaran, tetapi juga mendapat kesempatan berkomunikasi dengan penutur dari latar budaya berbeda.
Kehadiran Joas sekaligus menjadi pengalaman bagi siswa untuk melihat dunia pendidikan dari perspektif yang lebih luas.
Baca Juga: Unram dan Universität Kassel Perkuat Kerja Sama Riset
Selain memberikan pengalaman bagi siswa, program PPL di Smanti juga menjadi kesempatan bagi Joas untuk mengenal lingkungan pendidikan dan kehidupan masyarakat di Lombok.
Pihak sekolah secara rutin mendampingi Joas selama menjalani program tersebut. Pendampingan dilakukan agar proses adaptasi sekaligus pelaksanaan PPL berjalan optimal.
Di sisi lain, Joas juga diperkenalkan dengan berbagai kearifan lokal Lombok. Dengan begitu, pertukaran pengalaman tidak hanya berlangsung dari mahasiswa Jerman kepada siswa Smanti.
Sebaliknya, budaya lokal juga menjadi bagian dari pengalaman yang diperoleh melalui pertukaran budaya tersebut.
Yuspita menilai interaksi semacam ini penting untuk membangun wawasan global siswa.
Lingkungan sekolah dapat menjadi ruang pertemuan berbagai budaya tanpa meninggalkan identitas lokal. Program mahasiswa juga diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari bahasa asing.
Baca Juga: PGRI Mataram Galang Donasi Gempa NTT Rp 202,91 Juta
Interaksi langsung memberikan pengalaman komunikasi yang lebih nyata. Siswa dapat belajar menggunakan bahasa dalam situasi sehari-hari sekaligus memahami bahwa bahasa juga menjadi pintu untuk mengenal budaya lain.
Yuspita berharap program PPL mahasiswa Jerman tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Kolaborasi internasional serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak pihak.
“Semakin banyak interaksi internasional yang hadir di lingkungan sekolah, semakin besar pula kesempatan siswa mendapatkan pengalaman dan wawasan baru,” pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post