LombokPost- Perempuan guru dan kepala sekolah didorong menjadi penggerak utama dalam mewujudkan sekolah aman dan nyaman di Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Peran perempuan PGRI dinilai strategis untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, ramah anak, dan bebas dari kekerasan.
Dorongan itu mengemuka dalam Seminar Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak bagi Perempuan PGRI yang digelar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Lobar bersama Inovasi NTB di Aula Kantor Bupati Lobar, Sabtu (19/9).
Penjabat (Pj) Sekda Lombok Barat Saeful Ahkam mengatakan, pembahasan mengenai kesetaraan gender perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Kesetaraan gender bukan berarti menempatkan perempuan lebih tinggi maupun lebih rendah dari laki-laki.
Baca Juga: MBG Mataram Dievaluasi, Waktu Pembagian Diubah agar Tak Ganggu KBM
Menurut Ahkam, perempuan memiliki peran strategis dalam keluarga maupun masyarakat. Kekuatan itu juga dapat menjadi modal penting dalam membangun budaya sekolah aman dan nyaman.
“Perempuan diberikan kekuatan yang luar biasa. Banyak perempuan menjadi kepala keluarga,” kata Ahkam.
Ia menilai peningkatan kualifikasi dan kompetensi perempuan menjadi bagian penting untuk memperkuat peran itu. Dalam dunia pendidikan, peran perempuan bahkan tidak bisa dilepaskan dari posisi ibu sebagai pendidik pertama bagi anak.
Baca Juga: SMAN 3 Mataram Genjot Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan
“Setiap ibu menjadi sekolah pertama anak-anak,” ujarnya.
Karena itu, Ahkam mendorong perempuan PGRI tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga tampil di garis depan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak.
“Ayolah, suluh budaya aman dan nyaman. Perempuan harus terdepan untuk mewujudkan budaya sekolah aman dan nyaman,” pintanya.
Baca Juga: Ombudsman Temukan Sarana Dapur MBG Batukliang Belum Memadai
Manager Inovasi NTB Jamarudin menegaskan, kesetaraan gender tidak semata-mata berbicara mengenai emansipasi perempuan. Ketika perempuan dipercaya menjadi kepala sekolah misalnya, pembahasan kesetaraan gender harus mencakup kesempatan yang adil bagi seluruh warga sekolah.
“Kalau hari ini kepala sekolah perempuan, bukan berarti melulu berbicara perempuan,” katanya.
Ia mengapresiasi PGRI Lobar yang menginisiasi seminar itu. Kegiatan itu dinilai sejalan dengan sejumlah fokus Inovasi NTB dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan.
Baca Juga: Hasil Tes IQ SMPN 17 Mataram Ungkap Potensi Siswa, Guru Siapkan Pendampingan
“Seminar ini sangat penting karena yang terjadi di sekolah 70 persen ada di tangan kepala sekolah,” ujarnya.
Jamarudin menekankan pentingnya keteladanan kepala sekolah dalam menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman. Terutama pada jenjang sekolah dasar, anak masih berada dalam tahap meniru perilaku orang dewasa di lingkungan sekitarnya.
“Anak SD masih pada tahap meniru. Jadikan kepala sekolah sebagai teladan,” katanya.
Baca Juga: SMPN 22 Mataram Perkuat Pembelajaran Digital, Guru Didorong Makin Terampil
Sementara itu, Ketua PGRI Lobar Akhmad Sujai mengatakan, sekolah tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Sekolah juga menjadi ruang bagi anak untuk tumbuh, berinteraksi, membangun karakter, mengembangkan potensi, dan menyiapkan masa depan.
Menurut Sujai, perempuan PGRI memiliki peran strategis untuk mewujudkan kondisi itu. Perempuan guru dan kepala sekolah dapat menjadi pendidik, pemimpin, penggerak perubahan, pelindung anak sekaligus teladan bagi warga sekolah.
Ia berharap seminar kesetaraan gender dan perlindungan anak tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. “Anak harus datang ke sekolah dengan perasaan senang, diterima, dihargai, dan dilindungi,” ucapnya.
Baca Juga: Kepala SMAN 1 Soromandi Ingatkan Siswa: Hebat Itu Berprestasi, Bukan Tawuran!
Sujai mendorong seluruh peserta menerjemahkan pengetahuan dari seminar itu menjadi perubahan nyata di satuan pendidikan masing-masing. Penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah perempuan diharapkan mampu mencegah sekaligus merespons berbagai bentuk kekerasan terhadap anak.
Dengan begitu, sekolah aman dan nyaman di Lobar tidak sekadar menjadi slogan. Budaya sekolah aman dan nyaman membutuhkan komitmen, keteladanan, konsistensi, serta kolaborasi seluruh warga sekolah.
“Ketika kita melindungi seorang anak, kita sedang menjaga masa depan bangsa,” pungkasnya.
Editor : Pujo NugrohoSumber : Lombok Post