“Kami sangat menyesalkan, semestinya diawali dengan komunikasi yang baik,” ujarnya mengawali pembicaraan.
Ia menuturkan, kasus bermula dari rencana peremian Posko SALAM di salah satu rumah milik warganya bernama Husnul Fikri. Menurut Irwan, Fikri kepada dirinya sempat menyatakan akan mengadakan pertemuan biasa saja, tanpa ada pembahasan tentang pendirian posko.
Namun tiba-tiba esok sore, sekitar pukul empat sore sebelum kejadian, Fikri memberikan sebuah surat, tanpa ada lampiran apa pun. Isinya tentang peresmian Posko SALAM dan akan dihadiri Paslon.
Namun sejumlah warga keberatan. Termasuk keluarganya sendiri keberatan jika ada posko pemenangan dibangun di rumah keluarga besar tersebut. Disinilah cekcok terjadi antar keluarga Husnul terjadi. Adu mulut tak terhindarkan.
“Ini yang memancing warga lain datang,” ujar Irwan.
Memang lanjut Irwan, semenjak Pilkada Mataram 2010 lalu ada kesepakatan antar warga di Karang Bedil tidak boleh ada pendirian posko pemenangan terkait Pilkada. Tujuannya untuk menjaga persatuan dan kondusivitas lingkungan. Inilah yang menjadi alasan di sejak Pilwali Mataram 2015 lalu tidak ada satupun Posko resmi paslon di Karang Bedil. Meski demikian pemasangan atribut kampanye warga tak mempersoalkan.
“Memang ada kesepakatan warga seperti itu ditambah lagi ada keberatan dari keluarga Pak Husnul Fikri sendiri,” imbuhnya.
Untuk menengahi perselisihan tersebut Irwan selaku Kepala Lingkungan datang memediasi. Ia juga menghubungi Babinkamtibmas setempat untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
Irwan menyayangkan narasi liar yang berkembang dan terkesan dipolitisir untuk memojokkan pasangan calon tertentu. Seolah olah kericuhan yang terjadi antara Paslon HARUM dengan SALAM.
“Jadi ini murni persoalan antara Paslon dengan warga,” imbuhnya.
Agar hal serupa tak terulang, Irwan mengimbau seluruh paslon agar mengedepankan etika dan komunikasi yang baik. Selain itu menghormati awiq-awiq yang disepakati warga setempat.
“Mari komunikasi dengan baik, jangan sampai hal-hal seperti ini memecah belah kita,” imbuhnya.
Sebelumnya Lurah Mataram Timur Rahmawati yang dikonfirmasi Lombok Post membenarkan adanya informasi terkait pelarangan.
"Betul pak Kaling melarang. Tapi dalam artian melarang karena khawatir peresmian memicu keributan. Bukan dalam artian tidak boleh meresmikan posko," bebernya.
Informasi yang ia terima dari Bhabinkamtibmas, jauh sebelumnya memang akan ada kegiatan kampanye atau peresmian posko yang dimaksud. Potensi gesekan berpeluang terjadi mengingat Lingkungan Karang Bedil memang menjadi basis massa pasangan Harum.
"Saya koordinasi dengan pihak Kecamatan dalam hal ini Pak Sekcam. Beliau mengatakan nanti ada yang bertugas yaitu Panwascam," tuturnya.
Ditambah, pengamanan juga dilakukan oleh pihak dari Sat Sabhara Polsek Pagutan. Sehingga Lurah mengaku memantau dari jauh kondisi warga. Menghindari anggapan masyarakat ada keberpihakan terhadap salah satu paslon. "Karena kami kan belum lama ini sudah deklarasi netralitas ASN" cetusnya.
Rahmawati mengaku melihat warga Karang Bedil memang sudah banyak berkumpul di rumah yang akan dijadikam posko. Saat itulah, ia menerima info dari Bhabinkamtibmas Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana hadir menenangkan situasi. "Beliau mengimbau warga agar tidak ada keributan. Tapi informasinya posko akan dialihkan ke tempat lain tapi kami nggak tahu dimana," tandasnya.
TAK TERKAIT HARUM
Terkait narasi liar yang mengaitkan kericuhan ini dengan pasangan H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (HARUM), Juru Bicara Tim Pemenangan HARUM H Firadz Pariska menegaskan tak ada kaitan apapun dengan HARUM.
“Kami malah tahu dari media, kami rasa itu masalah tim paslon dengan warga,” imbuhnya.
Lingkungan Karang Bedil sendiri merupakan rumah bagi keluarga besar Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana (HARUM). Bahkan H Mohan mengelola Ponpes Tarbiyatul Ummah di lingkungan ini. Karena itulah saat peristiwa ini terjadi warga sempat menghubungi H Mohan sebagai tokoh masyarakat setempat.
H Mohan yang sedang dalam perjalanan ke Selagalas menyempatkan diri untuk mampir dan menenangkan warga. Ia meminta warga saling menghargai dan menghormati hak-hak politik selama pilkada.
“Bahkan Pak Mohan menjamin keamanan acara dan meminta kegiatan dilanjutkan,” tambahnya.
Karena itulah H Firadz mengajak seluruh pihak terkait untuk menjaga Pilwali Mataram ini tetap kondusif. Caranya dengan tetap mengedepankan etika dalam berdemokrasi.
“Mari kita tetap santun dan beretika, dan semestinya Pilkada ini kita rayakan dengan gembira,” imbuhnya.(ton/zul/r2) Editor : Administrator