Sukis, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa senantiasa melihat setiap pertarungan politik dengan serius. “Kita berikhtiar, karena saya juga sadar incumben ini berat bertahan,” katanya, kemarin (8/5).
Berkaca pada pemilu 2019 lalu, dari 136 anggota DPD RI yang mampu mempertahankan posisinya hanya 40 orang. “Jadi yang bisa bertahan sedikit sekali,” paparnya.
Terlebih tidak ada standar suara yang bisa dijadikan patokan mengamankan kursi DPD RI di NTB. Dalam setiap pemilu “juru kunci”, cenderung perolehan suaranya naik. Sehingga yang dapat dilakukan saat ini, terus berupaya agar perolehan suara pada pemilu 2019 lalu dapat meningkat lagi di pemilu 2024 nanti.
“Selama kita bertugas (sebagai anggota DPD, Red) waktu kita untuk turun ke masyarakat hanya hari Sabtu dan Minggu, belum lagi kita tidak punya dana aspirasi,” paparnya.
Namun demikian, Sukis telah berupaya berbuat terbaik bagi masyarakat. Memperjuangkan berbagai aspirasi yang berdampak pada program pembangunan daerah.
“Secara perlahan kita terus berupaya menyampaikan pada masyarakat (tentang keterbatasan kewenangan DPD), di samping itu kita juga menyuarkan apa yang menjadi aspirasi daerah dan masyarakat,” paparnya.
Yang lebih penting lagi kerja DPD merupakan bentuk pengabdian seutuhnya pada masyarakat. Berbeda dengan Caleg yang membawa kepentingan politik setiap parpol. “Kerja DPD, bukan mewakili partai,” ujarnya.
Sukis mengungkapkan bahwa pada pemilu 2024 nanti menargetkan 300 ribu suara. Target itu berdasarkan pemetaan suara dan pembinaan konstituen yang dilakukan selama ini. “Minimal targetnya adalah 300 ribu suara,” ungkapnya.
Selama berkiprah di DPD, Sukis mengaku telah memperjuangkan sejumlah isu strategis daerah. Antara lain anggaran Desa, peningkatan fasilitas pariwisata seperti akses jalan dari dan ke Sirkuit Mandalika, kesejahteraan untuk pembuatan sumur bor, hingga isu seputar pertanian spesifiknya tentang peningkatan suplai pupuk ke daerah. (zad/r2) Editor : Administrator