Bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB, dominasi generasi kekinian tersebut menjadi penentu keberhasilan Pilkada serentak 2024.
Itulah mengapa sejumlah strategi disiapkan dalam upaya memastikan partisipasi mereka di 27 November 2024 mendatang.
Komisioner KPU NTB Agus Hilman menerangkan jumlah tersebut meningkat sekitar 2 persen dari Pemilu 2024.
“Di Pemilu 2024 ada sekitar 58 persen. Tentu peningkatan 2 persen ini menjadi sangat signifikan. Itulah mengapa kami mempersiapkan sejumlah strategi melalui sejumlah program jelang hari pemilihan nanti,” kata Agus Hilman pada Lombok Post, Selasa (8/10).
Baca Juga: Imigrasi Mataram Interogasi WNA China yang Diduga Jual Mutiara Ilegal
Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Parmas dan SDM KPU NTB itu menuturkan, ada tiga strategi yang telah dan akan dilakukan.
Pertama berupa langkah sosialisasi melalui sejumlah program yang dekat dengan karakter generasi masa kini.
Hal itu berupa konten-konten sosialisasi kekinian melalui media sosial.
“Kita ada Instagram, ada youtube dengan program podcast dan ngobrol seputar pemilu,” terang Agus.
Lebih jauh ia menerangkan, tipologi generasi milenial dan Z lebih cenderung ke media sosial.
Baca Juga: Mantan Kades Lobar Nyatakan Dukungan Zul-Uhel
Di mana mereka lebih banyak mendapatkan informasi dari gawainya. Sehingga sosialisasi yang dilakukan KPU NTB lebih masif melalui media sosial dibanding media konvensional.
Strategi kedua adalah dengan melakukan pendidikan pemilih bagi generasi milenial dan Z.
Hal itu dilakukan dengan menginisiasi program pendidikan politik bagi warga di 15 desa/kelurahan di 9 Kabupaten/Kota.
“15 desa/kelurahan ini nantinya akan menjadi pelopor desa demokrasi. Di setiap desa kami merekrut 25 warga di usia 17 sampai 40 tahun untuk dilatih dari 9 sampai 23 Oktober 2024,” jelasnya.
Adapun 15 desa tersebut ditentukan dari empat kategori di antaranya desa kategori partisipasi rendah, rawan konflik, rawan pelanggaran, dan rawan bencana.
Kata Agus, dari program itu, KPU NTB akan memberikan pendidikan politik bagi generasi milenial dan Z di 15 desa.
Strategi terakhir adalah dengan memaksimalkan keterlibatan generasi milenial dan Z sebagai penyelenggara pemilu.
Baca Juga: Basarnas Mataram Gelar Pelatihan Teknis Potensi SAR Pertolongan di Permukaan Air
Ia menerangkan, dalam rekrutmen Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Pilkada NTB 2024, pihaknya memprioritaskan kelompok pemuda.
“Selain memang jumlah kelompok ini yang dominan, mereka juga lebih melek digital. Tentu dalam proses kerja-kerja di TPS nanti, kita membutuhkan KPPS yang memahami sistem kerja android. Ini dibutuhkan dalam menggunakan aplikasi Sirekap,” tegasnya.
Agus sendiri optimis, tingkat partisipasi milenial dan Z yang mendominasi di Pilkada NTB 2024 akan mencapai 80 persen lebih.
Sesuai dengan data DPT NTB pada Pilkada 2024 yang berjumlah total 3.964.325 jiwa, terdapat pemilih generasi Z (kelahiran 1997-2010) sebanyak 961.419 jiwa atau 24,25 persen.
Baca Juga: Pemda KLU-Pemprov NTB Belum Ada Solusi Konkret, Penyediaan Air Bersih di Gili Tramena
Sementara genarasi milenial (kelahiran 1981-1996) sebanyak 1.418.381 jiwa atau 35,78 persen.
Sedangkan generasi X (kelahiran 1965-1980) sebanyak 1.091.664 jiwa atau 27,54 persen, generasi Baby Boomer (Kelahiran 1946-1964) sebanyak 441.180 jiwa atau 11,13 persen, dan generasi Pre Boomer (Kelahiran di bawah 1945) sebanyak 51.681 jiwa atau 1,30 persen. (tih/r2)
Editor : Kimda Farida