Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rocky Gerung: Demokrasi Indonesia Makin Kehilangan Arah, Pemimpin Jadi Diler Bukan Leader

Rury Anjas Andita • Selasa, 22 Juli 2025 | 12:18 WIB
Rocky Gerung mengkritik kepemimpinan Indonesia, menyebut pemimpin lebih jadi dealer daripada leader.
Rocky Gerung mengkritik kepemimpinan Indonesia, menyebut pemimpin lebih jadi dealer daripada leader.

LombokPost - Diskusi bertema “Pemimpin Itu Melayani Bukan Dilayani” yang digelar di An Najm Mart, Lombok Timur, pada Senin, 21 Juli 2025, menggugah perhatian publik.

Acara yang dihadiri oleh tokoh intelektual nasional Rocky Gerung, akademisi Dr. Alvin Sahrin, dan TGH Najamuddin Mustafa ini memaparkan masalah krisis kepemimpinan di Indonesia serta arah demokrasi negara ini.

Diskusi yang penuh antusiasme itu juga dihadiri oleh sejumlah tokoh politik seperti anggota DPRD Lombok Timur Ahmad Amrullah, mantan anggota DPRD NTB H. Ruslan Turmuzi, mantan anggota DPRD Sumbawa Barat Yames, serta perwakilan dari Himalo Jakarta H. Karman BM.

Ratusan peserta dari kalangan aktivis, mahasiswa, pemuda, dan warga desa, turut serta dalam forum yang mengkritisi kondisi demokrasi Indonesia.

Korupsi Sistemik Mengancam Demokrasi

TGH Najamuddin Mustafa, sebagai penggagas acara, menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya korupsi yang semakin terang-terangan di Indonesia.

"Negara hari ini mempertontonkan korupsi besar. Kita sebagai anak bangsa menjerit hanya sekadar untuk mendapatkan makan," keluhnya.

Lebih lanjut, TGH Najamuddin mengungkapkan bahwa banyak pemimpin yang maju hanya untuk meraih kekuasaan, bukan untuk melayani rakyat.

"Pemimpin ingin menjadi pemimpin hanya untuk memperoleh kekuasaan dan memporak-porandakan ekonomi kita saat ini," tegasnya.

Demokrasi Indonesia Dibajak Elite Ekonomi

Dalam pemaparannya, Dr. Alvin Sahrin menyoroti bahwa sistem demokrasi Indonesia saat ini telah dibajak oleh kelompok elite ekonomi yang menguasai hampir seluruh aset negara.

Baca Juga: DPRD NTB Dukung Gubernur Moratorium Hibah Aset Daerah

Ia mengingatkan bahwa demokrasi harus mendahulukan etika dan kepentingan publik, namun kenyataannya justru melahirkan pemimpin yang terpilih melalui transaksi ekonomi.

“Demokrasi kita telah menyimpang jauh dari apa yang diciptakan oleh Socrates dan Plato, yang menghendaki demokrasi harus mendahulukan etika,” ujarnya.

Dr. Alvin juga mengkritik proses seleksi kepemimpinan yang hanya mempertimbangkan kekayaan, bukan kapasitas intelektual.

"Orang-orang intelektual tidak memiliki akses masuk kekuasaan karena keterbatasan uang sebagai jalan," tambahnya.

Pemimpin Jadi Dealer, Demokrasi Kehilangan Arah

Dalam sesi pemaparan, Rocky Gerung mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi demokrasi Indonesia yang semakin kehilangan arah.

Ia menyoroti bahwa Indonesia dibangun atas dasar pertengkaran pemikiran, namun kini segala keputusan negara diputuskan hanya berdasarkan anggaran.

"Ketika negeri ini didirikan ada pertengkaran pemikiran. Sekarang kita lihat pikiran itu seolah-olah tidak diperlukan lagi karena sekarang bisa diselesaikan melalui anggaran," ujar Rocky.

Rocky juga membedakan antara pemimpin yang sejati, yaitu leader, dan pemimpin yang hanya mengejar kepentingan materi, yang disebutnya diler.

“Pemimpin yang paham arah namanya leader, pemimpin yang paham anggaran namanya diler. Leader mencari arah untuk memberi harapan, diler tukar tambah amplop kerjanya,” kata Rocky tajam.

Ia juga menyoroti bahwa pemerintahan saat ini tidak memprioritaskan perubahan signifikan untuk memperbaiki tata kelola negara.

"Apakah di era Prabowo bupatinya, gubernurnya dealer atau leader? Kelihatan sekarang lebih banyak dealer daripada leader,” katanya.

Rocky juga mengingatkan bahwa satu-satunya tempat yang masih menyisakan harapan bagi bangsa ini adalah kampus.

Menurutnya, kampus adalah tempat yang mengajarkan mahasiswa untuk berpikir dengan nalar dan data yang sahih.

"Satu-satunya kejujuran sekarang datang di kampus. Karena kampus didikte dengan metodologi untuk hanya percaya pada data dan nalar," tambah Rocky.

Pesan untuk Pemuda Lombok Timur

Sebagai penutup, Rocky Gerung memberikan pesan kepada para pemuda di Lombok Timur agar terus menjaga demokrasi yang masih tersisa di Indonesia.

"Saya berharap pemuda di Lombok Timur ini dapat menjaga demokrasi agar tetap hidup," ujarnya dengan penuh harap.

Di akhir pemaparannya, Rocky menyoroti ketidakpercayaan investor terhadap Indonesia, yang ia sebutkan disebabkan oleh program-program populis yang tidak terkelola dengan baik.

"Ada Danantara duitnya banyak tapi enggak ada investor yang percaya. Program Makan Siang Bergizi sekarang mulai dipersoalkan," kata Rocky.

Menurut Rocky, potensi besar Indonesia seharusnya bisa dimanfaatkan lebih maksimal.

"Freeport bisa kita pakai untuk 70 tahun ke depan, Newmont bisa kita pakai untuk membiayai kehidupan gratis di Indonesia timur. Tapi itu potensi, masalahnya manajemennya enggak bagus-bagus," ungkapnya.

Editor : Rury Anjas Andita
#Indonesia #diler #rocky gerung #Leader #pemimpin #demokrasi