Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dino Patti Djalal Sentil Menlu Sugiono soal Kepemimpinan Diplomasi

Marthadi • Selasa, 23 Desember 2025 | 00:04 WIB

Dino Patti Djalal menyampaikan kritik terbuka terhadap kinerja Menlu Sugiono di Instagram pribadinya. (@dinopattidjalal).
Dino Patti Djalal menyampaikan kritik terbuka terhadap kinerja Menlu Sugiono di Instagram pribadinya. (@dinopattidjalal).
LombokPost - Kritik keras datang dari dalam lingkaran diplomasi Indonesia. Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, secara terbuka menegur Menteri Luar Negeri Sugiono, menyoroti kepemimpinan, komunikasi publik, hingga arah diplomasi nasional yang dinilainya kian kehilangan fokus.

Pesan terbuka tersebut diunggah melalui akun Instagram @dinopattidjalal, Jumat (22/12). Dino menegaskan, kritik yang ia sampaikan bukan serangan personal, melainkan bentuk kepedulian terhadap masa depan diplomasi Indonesia.

Ia berbicara sebagai sesepuh Kementerian Luar Negeri, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, ketua organisasi hubungan internasional, sekaligus diplomat yang telah berkecimpung hampir 40 tahun.

“Ini pesan cinta dan dukungan. Kami ingin melihat Menteri Luar Negeri Sugiono sukses dan diplomasi Indonesia tetap kuat,” ujar Dino.

Soroti Kepemimpinan dan Fokus Menlu

Kritik pertama diarahkan pada kepemimpinan dan fokus Menlu Sugiono dalam mengelola Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Menurut Dino, Kemlu membutuhkan kehadiran langsung menteri yang mencurahkan waktu secara serius.

Ia menilai idealnya Menlu mengalokasikan 50–80 persen waktu kerja untuk memimpin Kemlu. Dino mengibaratkan Kemlu sebagai “mobil Ferrari” yang memiliki diplomat-diplomat unggul, tetapi membutuhkan pengemudi yang fokus agar bisa melaju optimal.

Dino juga menyoroti belum adanya arahan strategis yang jelas kepada perwakilan RI di luar negeri. Bahkan, rapat koordinasi duta besar disebut tertunda hampir setahun dan minim panduan strategis saat akhirnya digelar.

Pemotongan anggaran diplomasi dinilai memperburuk situasi, berdampak pada kinerja sekaligus demoralisasi diplomat. Sejumlah duta besar juga disebut kesulitan bertemu Menlu saat berada di Tanah Air.

“Risikonya, banyak peluang strategis terlewat dan hubungan bilateral bisa menjadi tidak berimbang,” kata Dino.

Minim Komunikasi Publik Politik Luar Negeri

Kritik kedua menyasar komunikasi publik politik luar negeri. Dino mengutip prinsip almarhum Menlu Ali Alatas, foreign policy begins at home, bahwa kebijakan luar negeri harus dipahami publik domestik.

Menurut Dino, selama setahun terakhir Menlu Sugiono belum pernah menyampaikan policy speech, baik di dalam maupun luar negeri, serta belum melakukan wawancara mendalam mengenai arah diplomasi Indonesia.

Ia menilai komunikasi Menlu lebih banyak bersifat visual di media sosial tanpa penjelasan substansi kebijakan, sehingga memunculkan citra sebagai “silent minister”.

Dino juga menyinggung ketidakhadiran Menlu dalam sejumlah forum besar hubungan internasional di dalam negeri, seperti Conference on Indonesian Foreign Policy dan ASEAN for the People Conference, yang justru dihadiri menteri luar negeri negara lain.

Dinilai Jauh dari Pemangku Kepentingan

Kritik ketiga diarahkan pada relasi Menlu dengan pemangku kepentingan hubungan internasional, termasuk komunitas akademik dan organisasi masyarakat. Dino menyebut banyak undangan dialog dan permohonan audiensi tidak mendapat respons.

“Kami merasa Menlu sangat jauh, tidak komunikatif, tidak responsif, dan tidak aksesibel,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa dukungan dan kepercayaan tidak datang otomatis, melainkan harus dibangun secara aktif.

Dorong Diplomasi Gotong Royong

Kritik keempat menyangkut minimnya keterbukaan kerja sama antara Kemlu dan komunitas akar rumput diplomasi. Menurut Dino, diplomasi tidak hanya berjalan dari atas ke bawah, tetapi juga dari bawah ke atas.

“Gotong royong antara pemerintah dan ormas hubungan internasional adalah resep sukses diplomasi Indonesia,” ujarnya.

Peringatan Terakhir

Menutup pesannya, Dino mengingatkan bahwa Menlu Sugiono hanya memiliki “satu kesempatan dalam sejarah” untuk membuktikan kepemimpinannya.

Jika keempat kritik tersebut ditindaklanjuti, Dino menilai Sugiono berpeluang menjadi menteri luar negeri yang cemerlang. Namun jika diabaikan, ia memperingatkan adanya risiko kemunduran Kemlu dan merosotnya diplomasi Indonesia.

“Saya berbicara kebenaran kepada kekuasaan dan kepada rakyat. Wisdom without fear,” kata Dino.

 

Editor : Marthadi
#Menlu Sugiono #kementerian luar negeri #dino patti djalal #Politik luar negeri RI #Kritik diplomasi Indonesia