LombokPost – Komisi X DPR RI bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar workshop tentang teknik menulis berita ilmiah populer.
Kegiatan ini diikuti sekitar 74 wartawan dari media cetak dan online se-NTB di Hotel Lombok Garden, Kota Mataram, Sabtu (16/5).
Dalam sambutannya secara daring, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani mengatakan workshop ini sangat penting dan relevan bagi insan pers. Sebab setiap tahun Indonesia menghasilkan ribuan jurnal ilmiah. Mulai skripsi, tesis, disertasi, hingga produk penelitian ilmiah lainnya.
"Tapi sangat disayangkan sangat sedikit dari hasil penelitian ilmiah ini yang benar-benar diketahui oleh masyarakat," kata Lalu Hadrian.
Akibatnya, seringkali hasil penelitian menjadi sia-sia karena berakhir menjadi dokumen berdebu di rak-rak perpustakaan. Tidak berlebihan kalau hasil penelitian itu menjadi "lost knowledge" karena tidak tersampaikan kepada publik.
"Ini menjadi akar masalah masih rendahnya indeks literasi di tengah masyarakat," ujarnya.
Baca Juga: Lalu Hadrian Kembali Pimpinan DPW PKB NTB, Pasang Target Tiga Besar di Pemilu 2029
Menurut Hadrian, inilah urgensinya workshop tentang teknik menulis berita ilmiah populer yang melibatkan media di NTB.
Wartawan diharapkan mampu menulis dan menerjemahkan bahasa statistik penelitian menjadi bahasa cerita yang mencerahkan hati dan menghangatkan pikiran.
Bukan menulis jurnal yang penuh dengan rumus dan statistik yang sangat rumit. Bukan pula siaran pers biasa.
"Tapi tulisan yang mengemas hasil penelitian imiah menjadi cerita yang ringan, menarik namun tetap akurat dan tidak kehilangan humanismenya. Inilah peran wartawan sebagai penerjemah peradaban," papar Hadrian.
Ia berharap workshop tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara media, akademisi, dan lembaga riset dalam membangun budaya literasi ilmiah di Indonesia. Khususnya di Provinsi NTB.
Kemas Penelitian Ilmiah Jadi Cerita Ringan yang Menarik,
"Saya berharap wartawan mulai membangun jejaring dengan peneliti dan perguruan tinggi. Jadilah jembatan dengan mengolah data penelitian menjadi narasi yang menarik dan akurat," imbuh Ketua DPW PKB NTB itu.
Baca Juga: Badan Penghubung NTB Bersama DPR RI Lalu Hadrian Bantu Pemulangan PMI Esan Sampai Rumah
Peneliti BRIN Mega Mardita yang menjadi narasumber dalam workshop itu menyampaikan banyak berita terkait sains sulit menarik perhatian publik. Apalagi menjadi viral. Penyebabnya karena sering kali isi tulisan terlalu teknis, penuh jargon dan istilah rumit dan tidak relevan secara emosional.
"Banyak berita sains berhenti pada peristiwa peneliti melakukan penelitian. Padahal publik ingin tahu apa dampaknya untuk dirinya. Misalnya dampak kesehatan, ekonomi, dan lain-lain yang dekat dengan dirinya," jelas Mega.
Dalam jurnalisme sains, sambung dia, teori news value harus dikedepankan untuk menarik rasa ingin tahu dan penasaran.
Baca Juga: Miq Ari Minta Anggota Fraksi PKB se-NTB Peduli Guru Honorer
Alih-alih terjebak membahas metodelogi penelitian dan statistik, berita hasil penelitian ilmiah harus menggabungkan narasi dan emosi. Emosi pembaca harus dibangun lewat kedekatan dengan dirinya. Seperti dampak secara ekonomi, kesehatan, sosial, dan lain-lain.
"Mengapa mereka harus peduli dengan hasil penelitian itu. Sehingga dalam setiap berita harus ada unsur ancaman, masalah, perubahan, solusi, tantangan, dan dampak sosial yang ditimbulkan," papar Mega Mardita. (mar)
Editor : Umar
Sumber : Liputan