LombokPost – Keberadaan berbagai event internasional skala besar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, termasuk pergelaran MotoGP, dinilai belum memberikan dampak ekonomi secara menyeluruh bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Hingga kini, manfaat ekonomi dan pembangunan pariwisata tersebut disinyalir masih dominan dinikmati oleh pelaku usaha kalangan menengah ke atas.
"Masih belum saya melihat dampaknya secara langsung. Karena justru yang menikmati hasil dari event ini adalah pelaku usaha menengah ke atas. Harapan kita, masyarakat menengah ke bawah inilah yang seharusnya banyak menikmati hasil pengembangan pariwisata ini," terang Anggota Komisi II DPRD NTB Dapil Lombok Tengah Lalu Arif Rahman Hakim, Senin (3/8).
Dia mengungkapkan bahwa secara pribadi dirinya belum melihat dampak ekonomi, sosial, maupun peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang signifikan bagi masyarakat bawah.
Menurutnya, dampak positif sejauh ini baru terserap oleh segelintir pelaku usaha besar.
Arif juga menyoroti maraknya praktik penataan kawasan yang melenceng di wilayah Kute dan sekitarnya.
Salah satu masalah krusial adalah menjamurnya penginapan atau homestay liar yang dibangun investor asing tanpa izin resmi.
Baca Juga: Sekolah Gratis Bikin SMAN 1 Sembalun Diserbu, Pendaftar Melampaui Kuota
Bangunan yang seharusnya menjadi hunian pribadi tersebut justru disewakan secara komersial tanpa memberikan kontribusi atau pemasukan bagi daerah.
"Banyak investor luar negeri membangun homestay secara liar tanpa izin. Alih-alih untuk tempat tinggal pribadi, malah disewakan. Ini kan tidak ada pemasukan untuk daerah. Penertiban harus segera dilakukan," tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Gerakan Mahasiswa dab Pemuda Republik Indonesia (GMPRI) Lombok Tengah Syukron Makmun menilai pemuda setempat dan masyarakat di desa-desa penyangga KEK Mandalika belum diberdayakan secara maksimal.
Syukron mengungkapkan bahwa sebagian besar peluang kerja maupun keterlibatan dalam kelangsungan event besar kerap dikuasai oleh pihak dari luar daerah atau pihak-pihak yang memiliki relasi khusus.
Baca Juga: Tujuh Magnet MotoGP Mandalika yang Bikin Penggemar Ingin Nonton Kembali
"Peluang yang ada sering kali tidak bisa diambil oleh pemuda lokal karena kalah oleh jalur relasi atau tenaga dari luar daerah. Padahal pemuda di desa-desa penyangga seperti Kute, Prabu, hingga Rembitan harusnya menjadi prioritas utama untuk diberdayakan," ujar Syukron.
Baik DPRD NTB maupun elemen pemuda mendesak pemerintah daerah dan pengelola kawasan agar tidak sekadar berfokus pada kesuksesan pementasan event. Tetapi juga membuat regulasi yang berpihak pada pemberdayaan pemuda lokal serta pemerataan ekonomi warga sekitar.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post