Dia menerangkan, sebelumnya desa wisata adat itu ditutup sejak 28 Maret lalu. Itu karena, mengantisipasi penyebaran covid-19. “Karena kondisi ekonomi warga kami mulai terguncang, maka kami membuka seluruh objek wisata di Desa Rambitan.” Papar Minakse.
Selain Dusun Sade, objek wisata religi juga dibuka. Seperti Makam Nyatok dan masjid kuno Desa Rambitan. Namun wisatawan menerapkan protokol kesehatan. “Wisatawan dari luar NTB, sudah banyak menanyakan,” ujarnya.
Mereka sudah mendaftarkan diri untuk mengunjungi desa wisata Dusun Sade. Sebelum covid-19 melanda, kunjungan wisatawan sebanyak 400 orang per hari atau 10 bus per hari. Setiap bulan menembus angka 2.000 orang. Kemudian pascagempa sempat turun jadi 1.000 orang per bulan. Sedangkan, saat covid-19 tidak ada sama sekali yang datang. “Semoga ekonomi warga kami ini, segera pulih dan bangkit. Itu yang terpenting,” harapnya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Loteng H Lendek Jayadi, mempersilakan pemerintah desa/kelurahan mengeluarkan kebijakan membuka objek-objek wisatanya masing-masing. Asalkan, berkoordinasi dan berkomunikasi terlebih dahulu dengan disbudpar.
Untuk penerapan protokol kesehatan disbudpar mengandeng Satpol PP Loteng, babinsa, bhabinkamtibmas, pemerintah desa dan badan keamanan desa (BKD). “Ini namanya kita melangkah untuk menghadapi new normal, di bidang pariwisata,” kata mantan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Loteng tersebut. (dss/r5) Editor : Administrator