-------
Dibuka secara resmi Sabtu (15/1) lalu, objek wisata di Desa Lendang Ara ini diserbu wisatawan. Rata-rata pengunjung datang dari beberapa desa di Kecamatan Terara, Lombok Timur. Salah satunya, Desa Jenggik Utara. Sebagian lagi dari desa tetangga seperti Desa Wajegeseng dan Desa Aik Bual.
Di tempat itu, terdapat satu kolam renang. Bisa digunakan untuk anak-anak dan dewasa. Airnya sangat jernih, bersih, dan dingin. Wajar saja lantaran datang dari sumbernya. Kemudian berjejer berugak, dari ukuran sedang hingga besar.
Begitu selesai mandi atau beraktivitas, pengunjung bisa melepas lelah, sembari merasakan semilir angin. Atau dengan menyantap makanan dan minuman yang dibawa dari rumah masing-masing.
Pengunjung juga bisa membeli manakan dan minuman yang disiapkan di objek wisata. Kuliner khas di tempat itu pelecing lindung dan sayur tojang, atau sayur dari batang talas.
Bagi yang pernah merasakannya, dipastikan nambah lagi nasinya. Harganya murah meriah. Apalagi, bisa juga menyantapnya di areal bendungan. Di tempat itu, pengunjung memanfaatkannya untuk memancing. Bahkan mandi.
Dipinggir bendungan juga biasanya digunakan wisatawan untuk berkemah. Rata-rata dari anak-anak pramuka dan pecinta alam. Ada pula beberapa lokasi swafoto. Disiapkan di taman dan lereng perbukitan yang asri, sejuk dan rindang.
Untuk masuk di objek wisata Tandung Andung terbilang murah. Untuk dewasa Rp 5 ribu per orang. Sedangkan anak-anak Rp 3 ribu per orang.
Saat pembukaan, setiap pengunjung menerima bonus berupa teh kotak per orang. “Objek wisata ini sebenarnya sudah ada sejak kepala desa (kades) sebelumnya,” cerita Kades Lengdang Ara Ayunan.
Hanya saja, tidak begitu dikelola secara maksimal. Sehingga, begitu peralihan kepemimpinan tahun 2018 lalu, pihaknya langsung membuat perencanaan.
Tahun 2019, istri dari Arwiyanti Galuh tersebut kemudian mengalokasikan anggaran pembangunan desa. Baik yang bersumber dari dana desa maupun alokasi dana desa. Untuk penataan dan pembangunan fasilitas, sarana dan prasarana pendukung objek wisata. “Di tahun 2020 kembali saya anggarkan,” tandas Ayunan.
Sambil jalan, pemerintah desa membuka objek wisata itu. Mereka memanfaatkan media sosial dari Facebook, TikTok, Youtube, grup WhatsApp hingga Instagram. Hasilnya, ada saja pengunjung yang datang.
Agar terkelola secara maksimal dan profesional, pemerintah desa kemudian membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). “Awalnya, niat dan langkah saya ini ditolak sebagian warga,” katanya.
Namun, pihaknya merasa itu bagian dari tantangan. Dari rumah per rumah, Ayunan pun mendatangi setiap kepala keluarga. Bersama babinsa dan bhabinkamtibmas, mereka memberikan pencerahan. Alhasil, kini warga bisa merasakan manfaat ekonomi dari objek wisata Tandung Andung tersebut. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita