Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Anjar Siswara, PNS Pemkab Loteng yang Nyambi Jadi Pengepul Sampah

Rury Anjas Andita • Sabtu, 9 April 2022 | 15:00 WIB
BERSANTAI: Rifai beristirahat di atas kursi kayu miliknya di bawah Jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan, kemarin (1/2).
BERSANTAI: Rifai beristirahat di atas kursi kayu miliknya di bawah Jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan, kemarin (1/2).
ANJAR Siswara, Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemkab Lombok Tengah ini patut dijadikan contoh. Ia tidak malu bekerja sampingan (side job) sebagai pengepul sampah. Seperti ini sosoknya.

----

Lahir di Praya 4 Juli 1977, suami dari Rona Maria Nurhak ini setiap hari bergelut dengan sampah. Di halaman rumahnya menggunung sampah-sampah plastik. Dari bekas gelas dan botol aneka minuman kemasan, galon hingga jenis sampah plastik perlengkapan rumah tangga.

Kalau orang yang belum mengenal sosoknya, pasti mengira pria berjenggot dan berkumis tebal itu seorang pemulung atau murni seorang pengepul sampah. Karena begitu jam istirahat atau pulang kerja, ia cepat-cepat mengganti seragam kerjanya. Kemudian mengambil perlengkapan untuk membersihkan sampah-sampah yang ada.

Di Ramadan ini, Anjar -panggilan kesehariannya- benar-benar memanfaatkan waktu. Begitu sampah sudah bersih, maka dimasukkan ke dalam karung. Kemudian ditimbang dan di jual ke bank sampah PT Bintang Sejahtera di Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut. Atau bank sampah di Kelurahan Leneng, Kecamatan Praya.

Bagi Anjar, bekerja sampingan sebagai pengepul sampah cukup menjanjikan. Hanya saja, harus tahan gengsi dan malu. Karena mengerjakan sampah dianggap jorok dan kotor. Padahal, kalau berbicara hasil, bisa dikatakan kalah dengan penghasilan sebagai abdi negara.

Usahanya itu mulai digelutinya sejak pandemi Covid-19 hingga sekarang. Sesekali, Anjar sendiri yang mencari sampah-sampah plastik tersebut. Layaknya seorang pemulung, ia berjalan dari rumah ke rumah, guna mencari sampah plastik.

Lagi-lagi, ia tidak malu dan gengsi. Selama itu halal, ia menjalankannya dengan tekun dan disiplin. “Itu prinsip hidup saya,” ujarnya pada Lombok Post.

Bapak lima orang anak itu sendiri lulus ujian CPNS tahun 2004. Kemudian diangkat sebagai PNS tahun 2005. Penempatan pertama di kantor Pertambangan dan Energi Loteng. Kemudian bergeser ke sejumlah dinas hingga sekarang di Pemkab Loteng.

Aktivitasnya sebagai pengepul sampah itu juga, membuat namanya dilirik Pemerintah Kelurahan Leneng. Ia kemudian diminta menjadi Direktur Bank Sampah Kelurahan Leneng. Itu sekaligus memberikan contoh bagi warga pada umumnya. Bahwa, sampah bukan masalah. Tapi membawa keberkahan.

Itu asalkan dikelola sedemikian rupa, sehingga menghasilkan uang. Bahkan emas. Kata kuncinya, jangan malu dan gengsi. “Itu saja rahasianya,” tandas Anjar sembari satu per satu membersihkan gelas aneka minum kemasan di halaman rumahnya di Praya.

Menurutnya, kalau semua PNS melakukan hal yang sama ditempat tinggalnya masing-masing, maka dipastikan Gumi Tatas Tuhu Trasna bebas dari sampah. Karena selain sampah non organik, warga juga bisa memanfaatkan sampah organik sebagai pupuk.

Ke depan itu yang akan dilakukannya, mengolah sampah-sampah organik menjadi pupuk hingga biogas. “Saat ini saya sedang belajar,” pungkasnya. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Anjar Siswara #ASN Loteng #bank sampah #pengepul sampah