“Tiga sekolah tersebut yakni SDN 1 Bilebante, Kecamatan Pringgarata,” papar Ketua Komisi III DPRD Loteng H Muhalip, Selasa (14/6).
Di tempat itu, kata Muhalip, atap satu ruang kelas roboh total, sudah tidak bisa digunakan sama sekali. Bersebelahan dengan ruang kelas tersebut, ada dua ruang kelas lagi yang akan bernasib sama. Kondisi atap sudah reyot. Tinggal menunggu waktunya saja akan roboh total.
“Selain itu, diperuntukkan bagi SDN 2 Sukarara di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat,” ujar Muhalip.
Dijelaskan, di SDN 2 Sukarara, ruang kelas dalam kondisi mantap. Kecuali, ruang guru. Atap dari genteng dan kayu ambruk. Kondisi itu terjadi sejak tahun 2015 lalu.
Sejak itulah, para guru, pegawai administrasi dan kepala sekolah terpaksa menggunakan satu ruang kelas. Artinya, siswa di ruang kelas tersebut, terpaksa digabung dengan siswa kelas lain. “Yang terakhir, ada juga satu SDN di Kecamatan Janapria,” tandasnya.
Menurutnya, dengan anggaran sebesar itu sudah cukup. Mengingat yang diperbaiki sebatas atap saja. Sedangkan tembok masih kokoh dan kuat. Kalau pun ada yang retak-retak bisa ditempel. Anggaran itu sendiri diambil dari anggaran darurat di APBD.
“Jujur saja, sekolah-sekolah itu kami tahu kondisinya rusak justru dari pemberitaan media,” kata mantan Ketua Komisi II DPRD Loteng tersebut.
Seharusnya, Dinas Pendidikan (Disdik) Loteng lebih aktif menyampaikan kondisi fisik sekolah-sekolah di seluruh Gumi Tatas Tuhu Trasna. Baik rusak ringan, rusak sedang maupun rusak berat.
“Jangan ditutup-tutupi. Karena dengan begitu, dewan bisa membantu. Kita jangan terlalu berharap lewat dana alokasi khusus (DAK),” saran Muhalip.
Karena dana dari pemerintah pusat itu dialokasikan setahun sekali. Itupun beruntukkannya bagi beberapa sekolah.
Sehingga solusinya, ada di dewan itu sendiri. Bisa saja setiap dewan mengalokasikan dana pokir untuk memperbaiki sekolah. “Seperti yang saya lakukan di SDN 2 Pringgarata. Di tempat itu, saya bantu satu ruang kelas,” katanya.
Sementara itu, Kepala SDN 1 Bilebante H Sudirman merasa bersyukur dan berterima kasih karena para wakil rakyat ikut aktif memperhatikan nasib anak-anak didik. Bagi Sudirman, memperbaiki sarana dan prasarana sekolah, sama artinya memperhatikan nasib anak didik. “Jumlah anak didik kami di SDN 1 Bilebante sendiri ada 106 orang,” ujarnya. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita