Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengunjungi LKP Modes Kartini Muda di Desa Kopang Rembiga, Loteng

Rury Anjas Andita • Jumat, 15 Juli 2022 | 18:00 WIB
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
LEMBAGA Kursus dan Pelatihan (LKP) Modes Kartini Muda ini patut dijadikan contoh. Mereka menggratiskan kursus menjahit bagi anak yatim dan piatu, dan warga miskin.

---

Berada di jalan raya Desa Kopang Rembiga, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah LKP Modes Kartini Muda terus berkembang. Kalau di kalangan pejabat pemkab, nama Modes Kartini Muda ini tidak asing lagi didengar.

Rata-rata mereka menjahit baju, atau celana di tempat itu. Apalagi, bupati dan wakil bupati.

Sehingga setiap kali ada acara-acara di pemkab, biasanya para pejabat bersangkutan memesan jauh-jauh hari. Bahkan, dijadikan oleh-oleh untuk pejabat pemerintah pusat. Kualitas jahitan hingga bahan yang disiapkan tidak perlu diragukan lagi. Bisa dikatakan kalah dengan di tempat lain.

“Bagi kami kualitas menjadi hal utama dan nomor satu. Tidak bisa ditawar-tawar lagi,” ujar pemilik LKP Modes Kartini Muda Tri Harianto pada Lombok Post.

Tempat kursusnya itu sendiri berdiri sejak 1991 silam. Sudah ribuan orang anak didik yang dihasilkan. Dari sekian banyak anak didiknya tersebut, ada sebagian dari mereka yang tidak mampu, atau warga miskin. Kemudian anak yatim dan piatu.

Mereka tidak saja datang dari desa-desa di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Tapi, kabupaten/kota tetangga seperti Lombok Timur, Lombok Barat dan Kota Mataram. Bahkan, Pulau Sumbawa. Kalau dari kalangan mampu, pria berbadan gemuk tersebut menarik biaya kursus sebesar Rp 4 juta.

“Kalau warga miskin, anak yatim dan piatu saya gratiskan. Bahkan saya minta mereka tinggal di tempat kursus ini,” papar Tri.

Hasilnya, mereka mahir dan mumpuni. Mereka tersebut, ada yang langsung bekerja di Modis Kartini Muda, ada pula yang membuka layanan menjahit di rumah mereka masing-masing, hingga membuka kursus yang sama.

Bagi Tri, keberhasilan anak didiknya itu menjadi satu kebanggaan yang tidak bisa diukur dengan uang. Sehingga ia memastikan terus mencetak anak-anak didik yang terampil dibidang menjahit. Apapun status nya dan dari manapun. Yang terpenting, sungguh-sunggu dan serius. Apa yang diajarkan dijalankan dengan baik dan benar.

Langkahnya itu, sekaligus ingin meminimalisir dan menekan agar warga tidak lagi bercita-cita sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. “Untuk jam kursus kita bagi menjadi dua,” tandasnya.

Pertemuan pertama pukul 08.00-12.00 Wita. Kemudian pertemuan kedua dimulai dari pukul 14.00-16.00 Wita. Untuk sarana dan prasarana kursus lengkap, tidak kekurangan. Begitu pula bahan-bahan kain.

“Dari hasil jahitan anak-anak kami ini, ada harga baju atau celana yang kami jual sebesar Rp 7 juta,” kata pria yang menikah tahun 1993 tersebut. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#LKP Modes Kartini Muda #menjahit #Loteng #Desa Kopang Rembiga