“Harusnya dinas yang satu ini urus pariwisata saja. Jangan urus yang lain,” sindir koordinator umum (kordum) aksi Lalu Endi Kurniawan, Rabu (16/11).
Menurut Endi, beberapa pembangunan tidak selesai sesuai jadwal. Sejak tahun 2021 lalu hingga sekarang. Diantaranya pembangunan dan penataan objek wisata Sintung Park di Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata. Kemudian pembangunan dan penataan objek wisata Tandung Andung di Desa Lendang Are, Kecamatan Kopang. “Kami punya buktinya,” tegasnya.
Kedatangan massa aksi dijaga ketat personel Polres dan Satpol PP Loteng. Awalnya, massa aksi menyampaikan aspirasinya di pintu gerbang kantor bupati. Namun, beberapa puluh menit kemudian mereka menerobos masuk ke halaman kantor bupati.
Di tempat itu, mereka kembali menyampaikan tuntutannya. Mereka juga menyoroti dugaan jual beli aset pemkab dalam proyek wisata, hingga menyoroti kasus badan promosi pariwisata daerah (BPBD). Mereka menilai, disbudpar tidak cakap dan tidak mampu menjalankan program kerjanya.
Menurut mereka, pariwisata Loteng jalan di tempat, tidak ada inovasi dan kreativitas. Padahal, Loteng sudah mendunia. Kata dia, seharusnya Loteng sudah melangkah lebih maju daripada kabupaten/kota lain di NTB. Bahkan Indonesia.
“Kami minta bupati mengevaluasi para pejabat di disbudpar. Jika tidak, maka citra daerah ikut terganggu,” sambung massa aksi lainnya Sadam Husen.
Selama berorasi, tidak ada satu pun pejabat disbudpar yang menemui massa aksi. Mereka pun mengancam akan datang lagi dengan massa yang lebih besar. “Jangan remehkan kami. Dan, tunggu kedatangan kami selanjutnya,” ujar massa aksi. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita