Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ini Harapan Pemkab Loteng pada Program Regsosek Bappenas

Rury Anjas Andita • Selasa, 20 Desember 2022 | 00:30 WIB
SAMBUTAN: Bupati Loteng HL Pathul Bahri saat menyampaikan sambutan di acara Kementerian PPN/Bappenas RI di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Loteng, Jumat (16/12) sore. (Dedi/Lombok Post)
SAMBUTAN: Bupati Loteng HL Pathul Bahri saat menyampaikan sambutan di acara Kementerian PPN/Bappenas RI di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Loteng, Jumat (16/12) sore. (Dedi/Lombok Post)
PRAYA-Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Lombok Tengah terus diikhtiarkan menggeliat. Salah satunya lewat penyelenggaraan event-event sport tourism, seperti MotoGP dan World Superbike (WSBK) di sirkut Mandalika atau motocross di sirkuit Lantan.

“Kami bersyukur dari tahun ke tahun APBD daerah kami terus meningkat,” kata Bupati Loteng HL Pathul Bahri saat menghadiri kegiatan Kementerian PPN/Bappenas RI di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Jumat (16/12) sore.

Untuk itu, pihaknya berharap lewat registrasi sosial ekonomi (regsosek) Kementerian BPN/Bappenas, akan terdata secara rinci potensi-potensi ekonomi mana yang harus diintervensi pemerintah. Baik modal usaha hingga pendidikan dan pelatihan. Sehingga ekonomi daerah semakin meningkat.

“Saya ingin mengingatkan kita semua, agar regsosek ini berbasis keluarga. Bukan desa,” pesan Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam B Prasojo di tempat yang sama.

Terutama, kata Imam, kaum difabel. Walau di tengah keterbatasan fisik, namun mereka ikut menggerakkan ekonomi negara dan daerah lewat UMKM yang ditekuni. Hanya saja, minim perhatian. Sehingga lewat kebijakan Kementerian PPN/Bappenas, mereka semakin tumbuh.

“Karena bagi kami tidak ada yang tidak mungkin dalam membangun usaha. Seperti yang saya tekuni sekarang,” sambung Owner Teh Kelor Kidomendunia Nasrin.

Dulu, kata Nasrin, dari 100 orang yang diperkenalkan teh kelor, hanya 10 orang saja yang berminat. Banyak cibiran dan sindiran. Namun, seiring perkembangan waktu, kini sebagian besar menyukai teh kelor. Tidak saja warga NTB, tapi luar NTB bahkan luar negeri. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Bappenas #regsossek