“Sehingga, keran ekspor dari daerah ke luar negeri terbuka lebar,” harap pemilik Yulia Pottery Creative Lombok Handicraf Amran pada Lombok Post, kemarin (2/1).
Saat ini, kata Amran hasil kerajinan gerabah di beli oleh Bali. Kemudian, dari Bali dijual kembali ke sejumlah negara di dunia. Nama gerabah pun,bukan lagi Lombok. Melainkan, gerabah Bali. “Seperti itu kondisinya,” keluh pria asal Dusun Tenandong Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat tersebut.
Desa Penujak sendiri, kata Amran, sebagai desa penghasil gerabah pertama dan terbesar di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Sudah berjalan sejak puluhan tahun yang lalu. Dan, sudah menjadi warisan dari para orang tua zaman dahulu. “Kalau di Pulau Lombok sendiri ada tiga pusat gerabah,” papar Amran.
Selain di Desa Penujak, ada pula di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri Lombok Barat dan Desa Penakak, Kecamatan Masbagik Lombok Timur. Dia menilai, harapan yang sama pasti diinginkan para pengusaha dan perajin gerabah lainnya di Pulau Lombok agar pemerintah membantu.
Karena kondisinya saat ini masih jalan ditempat. Tidak ada peningkatan sama sekali. “Memang akses pasar luar negeri kita masih minim. Bahkan tidak ada. Ini masalahnya,” kata Kabid Industri Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Loteng Baiq Yuliana Sapriani, yang ditemui secara terpisah.
Untuk itu, pihaknya berharap pemerintag provinsi, bahkan pemerintah pusat ikut membantu. Dengan begitu, para pengusaha gerabah dan perajin semakin sejahtera. “Yang tidak kalah pentingnya, bagaimana pemerintah melakukan pendampingan,” kata Anggota Komisi II DPRD Loteng Lalu Muhamad Ahyar.
Langkah itu, tidak saja berbicara pendidikan dan pelatihan, dan modal kerja. Melainkan, inovasi kerajinan. Sehingga layak jual dan memiliki nilai tinggi. “Setelah itu, baru kita berbicara akses pasar,” ujar Ahyar. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita