Menurut dia, kalau pun materi konten dipersoalkan, maka pihaknya memastikan akan mengingatkan dan mengimbau warganya untuk mencari konten yang lebih kreatif. Walau demikian, pihaknya menekankan konten yang sempat viral bukan atas dasar paksaan. Melainkan, murni kreativitas dan keinginan pribadi. Seperti konten nenek mandi lumpur dan mandi tengah malam.
“Sampai ada artis dan orang di luar sana yang ingin melaporkan warga kami ke polisi. Menurut saya itu berlebihan,” ujar Sadli.
Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah dan aparat keamanan mendukung langkah warganya. Bukan sebaliknya. Apalagi, lewat kreativitas itu, warganya yang memiliki utang di bank “rontok” terlunasi dalam hitungan jam.
“Jadi, ini bagian dari pekerjaan utama kami,” kata salah satu pemilik konten TikTok Mustahap, terpisah.
Bagi pria kelahiran 1988 tersebut, kalau pemerintah dan aparat melarang, dan menyetop, maka para pemilik konten dan pemeran TikTok dalam hal ini warga akan kembali ke pekerjaan semula. Yakni sebagai buruh tani, buruh bangunan, sopir dan pengangguran.
“Atau kalau pemerintah mau menyiapkan pekerjaan lain buat kami, maka kami siap berhenti,” pungkasnya. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita