Wakil Ketua OSIS Sriulati mengatakan, aksi demo yang dilakukan merupakan bentuk solidaritas dan prihatin terhadap salah satu siswa yang kerap kali mendapat cemoohan oleh kepala sekolah. Bahkan sering dilakukan, sehingga Amrullah dinilai para siswa telah melakukan perundungan.
"Kita dari OSIS ada sentuhan hati saja, tidak ada satupun dari bapak guru yang tahu rencana aksi kita ini," ucapnya di sekolah (31/5/2023).
Ia menuturkan, pada demo pertama Kamis (25/5/2023) lalu, perwakilan OSIS berencana menghadap langsung kepala sekolah mereka. Cara Amrullah yang kerap mencemooh seorang siswa disebutnya telah memantik siswa lainnya untuk turut serta menyuarakan penolakan mereka atas sikap Amrullah.
"Bukan masalah Faizal (siswa yang diduga mengalami perundungan, Red) saja yang membuat kami geram. Selama ini banyak hal-hal yang membuat kita (lakukan aksi, Red) kok ada yang berbeda di sekolah ini. Makanya kita melakukan aksi demo itu," tegasnya.
Selain itu, para siswa dari organisasi ekstra sekolah yang ikut melakukan demonstrasi disebut memiliki tuntutan berbeda-beda. Menurutnya, perasaan tertekan atas cara Amrullah memperlakukan siswa tidak hanya dirasakan oleh OSIS, melainkan oleh organisasi ekstra seperti PMR, Paskibra, dan Remaja Musala di sekolah tersebut.
Saat menggelar aksi demo, para siswa pun menuliskan tuntutannya dalam kertas yang mereka bawa saat aksi. ‘Kami tidak butuh kepsek arogan’, ‘jabatan tinggi jangan sampai lupa mati, dan ‘ganti kepsek’ adalah beberapa di antaranya.
Terpisah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana SMAN 1 Praya Tengah Farid membenarkan aksi demo yang berlangsung selama setengah jam. Tidak ada aksi arogan selama unjuk rasa yang dilakukan siswa. Sementara kepala sekolah yang didemo pun sedang tidak ada di sekolah.
"Pak Kepsek ada rapat di provinsi, cuma sebentar (unjuk rasa, red). Aspirasi mereka sudah disampaikan, sampai yang dari provinsi sudah turun, kita tunggu saja keputusan dari provinsi," singkatnya. (ewi/r10) Editor : Baiq Farida