------------------------------
Rajangan daun-daun tembakau menghampar di setiap sisi jalan raya antara Desa Mujur dan Desa Kidang di Kecamatan Praya Timur, Loteng. Bak permadani berwarna oranye kekuning-kuningan, tak ada celah lahan sedikitpun yang tidak dipakai petani untuk menjemur daun-daun tembakau pasca panen pertama, kemarin (26/7).
Akibat cuaca yang tak menentu, di mana hujan mengguyur meski musim kemarau, membuat sebagian besar petani tembakau di sana terpaksa memanen lebih awal daun-daun bawah tembakau. Khawatir tanaman tembakau mereka menjadi lebih rusak dan mengalami kerugian lebih besar lagi.
Tak terkecuali Muhammad Jane petani tembakau setempat. Usai menghamparkan rajangan daun-daun tembakau di atas lahan seluas 80 are, pria paro baya itu menuju tenda beratapkan terpal. Di sana, sudah menanti berbal-bal daun tembakau yang telah dipetik pekerjanya.
Amaq Jane akrab disapa, turut serta memilih daun-daun tembakau yang dirasa berkualitas bagus, kurang bagus hingga jelek. Pemilahan harus dilakukan karena menentukan harga rajangan tembakau yang akan dijual Amaq Jane pada pengepul beberapa hari lagi.
"Yang bagus harganya sekarang mencapai Rp 4 juta hingga Rp 4,3 juta per kuintal, kurang bagus kisaran Rp 2 juta, yang jelek ini Rp 10 ribuan per kilogram," ungkapnya di sela-sela pemilahan daun tembakau.
Amaq Jane satu diantara petani tembakau yang cukup beruntung pada panen pertama daun bawah ini. Akibat cuaca tak menentu, yang mana hujan mengguyur lahan mereka meski musim kemarau, berdampak pada rusaknya tanaman tembakau petani. Kondisi gagal panen petani tembakau, membuat pasokan tembakau menipis namun harganya menjadi fantastis.
"Pengepul berani bayar tinggi kalau tahu ada hasil tembakau yang bagus, apalagi situasi sekarang pada gagal panen," ucap bapak beranak tiga ini.
Ia menuturkan, sebagian besar petani di Desa Kidang terpaksa menanam ulang pohon tembakau. Karena tanaman yang baru berumur satu bulan terendam air hujan. Sedangkan tanaman yang sudah mencapai tiga empat bulan, mendadak layu dan busuk akibat kebanyakan asupan air dan pupuk.
"Yang rusak tembakaunya karena sebelum turun hujan, mereka sudah siram dengan air dan pupuk. Hujan turun, air kebanyakan jadi rusak. Kalau saya, kebetulan memang belum siram, sehingga pas hujan tidak terlalu bermasalah," terangnya.
Walau begitu, ia juga mengalami daun tembakau yang membusuk meski persentasinya kecil. Sebab itu, ia menyegerakan panen lebih awal untuk meminimalisir kerugian.
Siapa sangka, di tengah pasokan tembakau yang menipis, harga tembakaunya laris manis di pengepul. "Yang jelek pun tetap mereka beli, tidak ada daun yang kami buang tapi tentu harganya beda," timpalnya.
Untuk mendapatkan hasil rajangan tembakau yang bagus, diakui, harus dipastikan tingkat kematangannya saat penjemuran. Jika cuaca bersahabat, yaitu langit cerah tanpa mendung dipastikan petani tembakau tersenyum. Namun, jika cuaca mendung apalagi hujan turun dipastikan petani gigit jari. "Cuaca bagus dua hari saja, hasilnya pasti memuaskan," tukas Amaq Jane. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita