DUSUN Nyanggi, Desa Montong Gamang, Kecamatan Kopang, Loteng merupakan salah satu sentra pembuatan aneka kerajinan anyaman bambu yang masih eksis hingga kini. Gang sempit dengan jalan cukup menanjak, mengantarkan Koran ini menuju kediaman Salamudin, seorang perajin setempat.
Senyum ramah Salamudin menyambut kedatangan Koran ini. Tikar berwarna merah hitam bercorak biru pun digelarnya di atas teras keramik berukuran satu kali dua meter itu. Sembari memohon maaf, karena sebagian besar kediamannya dijadikan tempat menyimpan aneka produk kerajinan dari bambu. Maklum, bulan ini ia sedang kejar setoran.
"Sebulan lagi ini harus sudah selesai, yang mesan akan kirim ke Amerika Serikat," ucapnya mengawali pembicaraan, Rabu (9/8).
Pesanan yang datang kali ini sebanyak 900 biji, berupa rak-rakan bertingkat yang dapat digunakan sebagai tempat sabun untuk laundry atau perbumbuan. Serta beberapa ratus biji keranjang tempat pakaian dengan tutup berbahan kombinasi rotan dan kulit bambu. Katanya, produk ini sedang digandrungi orang-orang dari Negeri Paman Sam.
Sepuluh tahun terakhir, usaha kerajinan anyaman bambu milik Salamudin fokus pada aneka kerajinan yang diminati pasar luar. Bukan ingin meninggalkan tradisi lama yang hanya membuat bakul semata. Namun, jika hanya mengandalkan bakul saja dan tidak berinovasi maka orang seperti dirinya akan tergerus perkembangan zaman.
"Dengan berinovasi seperti ini, ada nilai tambah ekonomi yang kita dapat," ujar bapak tiga anak ini.
Seperti pesanan dari Amerika Serikat, lanjutnya, omzet yang dapat diraih Salamudin bisa mencapai puluhan juta rupiah sekali pesanan. Padahal kerajinan yang dibuatnya berupa barang setengah jadi. "Kenapa tidak sampai finishing, karena yang selesaikan nanti dari pengusaha di Desa Beleka," ucapnya.
Salamudin bukan tak mau terima orderan hingga finishing. Namun karena terkendala tenaga kerja, tempat, waktu dan modal yang cukup besar. Ia tak ingin keteteran dengan produk pesanan dari pemesan yang lain. "Jika finishing satu produk, yang lain keteteran, gak kepegang kita buat," ucap Salamudin.
Untuk membuat kerajinan anyaman bambu, Salamudin mengutamakan kualitas bambu lokal. Namanya bambu tali, kulit bambu ini tidak mengkilap namun dari sisi kualitas jauh lebih awet ketimbang Bambu Ampel. Sedangkan kualitas Bambu ampel tidak cukup awet meski kulit bambunya sangat mengilap.
"Satu barang bambu bisa menjadi tiga produk. Untuk harga, bambu tali bisa mencapai Rp 20 ribu per barang, sedangkan Bambu Ampel mencapai Rp 10 ribu per batang," bebernya.
Pengalaman membuat bakul sejak nenek moyang dan turun temurun, memudahkan mereka membuat aneka macam kerajinan anyaman bambu. Sebab teknik dasar pembuatan sama, yang membedakan hanya bentuk pola dan ukuran. (lestari dewi) Editor : Administrator