Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Antisipasi Lonjakan Harga Beras, Pemkab Lombok Tengah Pemerintah Siapkan Operasi Pasar

Lestari Dewi • Jumat, 8 September 2023 | 07:50 WIB

BANTUAN BERAS: Tampak tumpukan beras yang siap disalurkan kepada warga di kantor Desa Mekar Bersatu, Kecamatan Batukliang, Loteng, Kamis (27/4). (Dewi/Lombok Post)
BANTUAN BERAS: Tampak tumpukan beras yang siap disalurkan kepada warga di kantor Desa Mekar Bersatu, Kecamatan Batukliang, Loteng, Kamis (27/4). (Dewi/Lombok Post)
LombokPost-Mengantisipasi lonjakan harga beras sebagai dampak iklim El Nino, Pemkab Lombok Tengah (Loteng) bersama Bulog NTB akan menggelar operasi pasar. ”Produksi beras berkurang. Akibatnya harga jadi naik,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Loteng Roro Sri Mulyaningsih, kemarin (6/9).

Harga beras di pasar pada pekan ini mengalami kenaikan dari Rp 12 ribu per kilogram menjadi Rp 14 ribu. ”Harga beras naik Rp 2 ribu,” ujarnya.

Meski demikian, Nining akrab disapa memastikan, ketersediaan beras untuk kebutuhan masyarakat Loteng masih tersedia. ”Masih ada. Aman. Harganya saja yang naik,” timpalnya.

Nining menilai, kenaikan harga beras mulai terjadi pada akhir Agustus lalu. Sehingga pihaknya masih belum melakukan antisipasi untuk menjaga inflasi. ”Ini baru naik. Jika terus naik, kami upayakan menggelar pasar murah,” katanya.

Terpisah, Pimpinan Wilayah (Pimwil) Perum Bulog NTB David Susanto menjelaskan, dampak dari el nino mengakibatkan produksi gabah petani menurun drastis. Menyebabkan harga beras di pasaran mengalami kenaikan hingga Rp 12 ribu untuk kualitas medium.

Guna menstabilkan harga beras, Perum Bulog Kanwil NTB terus melakukan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Terutama terhadap komoditi beras kualitas medium. Dan bekerjasama dengan pengecer beras di setiap pasar untuk stabilkan harga beras.

”Pengecer-pengecer tersebut di dropping beras sekitar satu ton sekali dropping. Itu dua sampai tiga kali seminggu untuk 16 sampai 12 pengecer,” katanya.

Ia mengatakan, pada prinsipnya seluruh pasar tersedia beras dan masyarakat tidak kesulitan membeli beras. Artinya pasokan lancar dan tersedia. ”Masalah harga naik adalah hal yang wajar karena memang bukan musim panen raya  dan panen sedikit,” tambahnya. 

Menyoal SPHP yang digelontorkan Perum Bulog NTB, untuk 10 kabupaten/kota se-NTB sampai dengan 100 ton per hari. Sementara stok yang dimiliki Perum Bulog NTB saat ini sejumlah 38 ribu ton setara beras. Masuk kategori aman sampai dengan musim panen tahun depan.

”Untuk beras kualitas medium yang wajib dijual maksimal HET (harga eceran tertinggi) Rp10.900 per kilogram,” tegas David. 

David menegaskan, masyarakat langsung dapat membeli beras SPHP ini ke pasar-pasar tradisional. Seperti, Pasar Mandalika, Kebon Roek, Pagesangan, Sindu, ACC, Sayang-Sayang, Gerung, Renteng, Narmada hingga Gunung Sari. ”Pasar-pasar lain di Lotim sampai dengan Bima juga sudah ada dan outlet-outlet RPK yang sudah ditunjuk Perum Bulog NTB,” tutupnya. (ewi/r11) 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Lombok Tengah #operasi pasar #Harga Beras