PT Angkasa Pura I Bandara Lombok menggelar simulasi penanggulangan keadaan darurat. Salah satunya kecelakaan pesawat terbang yang terbakar saat mendarat di bandara. Di luar ekspektasi, api simulasi pesawat terbakar menjalar, dengan cepat membakar rerumputan kering disekitar lokasi. Berikut ulasannya.
LESTARI DEWI, Lombok Tengah.
Sejumlah wartawan berkesempatan mengikuti simulasi penanggulangan keadaan darurat yang dilakukan PT Angkasa Pura I Bandara Lombok, kemarin (14/9). Usai menyaksikan upacara latihan Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) ke-112 di halaman depan gedung VIP Bandara Lombok, Koran pun menggunakan atribut rompi khusus berwarna hijau terang dan memakai tanda pengenal media yang sudah disiapkan panitia.
Sekitar satu jam lamanya, Lombok Post bersama wartawan lainnya menunggu. Hingga akhirnya pukul 10.45 Wita kami menggunakan mobil berwarna menuju lokasi runway 13, di ujung timur Bandara Lombok.
Sesampai di sana, ternyata bukan hanya wartawan hampir 20 orang tamu undangan turut menyaksikan simulasi dari kejauhan. Dari bawah tenda yang telah disiapkan. Lokasi kami menonton simulasi dengan pesawat yang terbakar hanya dipisahkan parit yang mengering.
Dari kejauhan, tampak miniatur pesawat bertuliskan Tambora Air. Di balik miniatur tersebut terdapat ratusan penumpang pesawat yang menanti aba-aba sebelum beraksi. Tak jauh dari pesawat, ada lima tong berisikan kayu bakar. Seseorang mulai menuangkan bahan bakar minyak ke atas kayu dan api pun mulai dinyalakan.
Awalnya skenario berjalan mulus. Api membakar tumpukan kayu. Penumpang pun mulai berakting seolah-olah telah terjadi kecelakaan pesawat yang membakar badan pesawat. Namun siapa sangka, si jago merah menjalar keluar tong. Kobaran api kemudian menjalar dan membakar beberapa meter rumput kering di sekitar pesawat, merembet lebih luas ke arah barat.
Api cepat menyebar karena besarnya angin yang bertiup ke arah barat. Setelah memadamkan api pesawat, mobil pemadam api ringan (APAR) jenis busa milik Bandara Lombok mengarahkan selangnya ke rerumputan yang terbakar.
Sementara dari sisi timur, sejumlah petugas keamanan berlarian menuju sisi parit sembari membawa tabung APAR. Awalnya hanya sekitar lima tabung, namun api kian menjalar, asap pun semakin tebal membuat pihak keamanan menambah tabung APAR.
Hampir setengah jam lebih mereka berjibaku memadamkan api. Ketika api sudah padam, agar tidak menyisakan percikan-percikan api, petugas yang membawa tabung APAR kembali menyemprot akar rumput.
Bagian kanan runway yang semula kuning kecoklatan pun berubah menjadi warna hitam. Meski demikian kegiatan yang semula hanya simulasi, menjadi penanggulangan keadaan darurat yang nyata. Pihak bandara memastikan tidak ada korban ataupun kebakaran yang meluas.
”Alhamdulillah sudah aman, meski angin bertiup kencang api tidak menjalar ke bagian lain karena sudah dibatasi dengan parit,” singkat Stakeholder Relation Manager Bandara Lombok Arif Haryanto.
Sementara itu, dalam skenario simulasi kemarin, Pesawat Tambora Air dengan nomor penerbangan TBR 112 mengalami kecelakaan saat mendarat. Kemudian terbakar di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), Loteng, pukul 11.10 Wita, kemarin.
Kecelakaan ini mengakibatkan 10 orang meninggal dunia, tujuh orang luka berat, lima orang luka sedang dan 190 orang mengalami luka ringan. ”Kami ucapkan duka yang sangat mendalam,” ucap General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Lombok Rahmat Adil Indrawan pada wartawan di ruang media center, Bandara Lombok, kemarin.
Ia menjelaskan, pesawat dengan nomor registrasi PK-TBR ini mengangkut 205 penumpang dan tujuh kru. Pesawat berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Lombok pada pukul 08.00 WIB dan dijadwalkan tiba di Lombok pukul 11.00 Wita.
Adapun penanganan korban meninggal dunia dan luka-luka, kata Adil, sudah dievakuasi ke puskesmas dan rumah sakit terdekat Bandara Lombok. Sementara yang mengalami luka ringan dibawa ke ruang medis milik Bandara Lombok.
”Kepada pihak keluarga korban sudah kami lakukan komunikasi dan mereka mulai berdatangan di posko yang sudah kami siapkan atau gedung sebelah media center,” terangnya.
Mengenai penyebab kecelakaan, Adil mengaku belum bisa disampaikan mendetail karena masih dilakukan investigasi oleh tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "Jika sudah ada pernyataan resmi baru bisa kami sampaikan. Apalagi ini insiden pertama kali terjadi di Bandara Lombok,” tegasnya.
Adapun kronologis kejadian, ia memaparkan, saat pesawat akan mendarat sudah ada rasa keraguan yang dirasakan pilot. Apakah mau mendarat atau tidak, apakah landing key sudah terbuka atau belum.
”Sudah dikonfirmasi oleh pihak tower, namun karena ada sesuatu hal landing key terkunci dan pesawat bergesekan dengan runway hingga melipir ke sebelah kanan dan terjadi kebakaran,” jelas Adil.
Adil menuturkan, sebelum insiden kecelakaan terjadi saat itu Bandara Lombok beraktivitas normal. Namun ketika insiden berlangsung pihak bandara terpaksa menghentikan sementara aktivitas penerbangan yang datang dan berangkat dari Lombok.
”Pasca kecelakaan situasi bandara sudah berjalan dengan normal, secara signifikan manajemen Bandara Lombok sudah tertangani dengan baik,” terangnya. (*/r11)
Editor : Akbar Sirinawa