Kesulitan air bersih kini merata pada sebelas dari 12 kecamatan se-Lombok Tengah. Kini, tiap harinya BPBD Loteng paling sedikit menyalurkan air bersih hingga enam kali sehari.
-----
SETELAH memastikan mobil-mobil tangki air terisi penuh, Muhammad Sandi Gunawan mengarahkan empat mobil tangki menuju Dusun Pare, Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur. Sebagai anggota dari tim reaksi cepat, belasan ribu liter air bersih harus segera diterima ratusan warga di sana.
Tiga puluh menit dari Kota Praya, Sandi segera menyandarkan motor hitamnya masuk ke halaman rumah warga. Ia mencari kepala dusun setempat untuk segera menginformasikan warganya mengeluarkan wadah-wadah penampungan air bersih. Tak berselang lama, satu mobil tangki air kapasitas empat ribu liter pun tiba.
Walau cuaca panas, antusias warga berduyun-duyun mengeluarkan wadah besar berwarna merah di pinggir jalan. Tidak jauh dari badan mobil tangki air.
Sandi pun mengarahkan warga untuk menjajarkan wadah agar rapi dan semua kebagian air bersih. Di sela-sela pembagian, ia berpesan kepada warga untuk tidak khawatir kehabisan air. Sebab masih ada tiga mobil tangki lainnya menuju desa.
Pria kelahiran 1998 silam ini mengaku, walau terlihat sepele namun membagikan air bersih kepada warga yang membutuhkan cukup berat. Tidak semua warga sabar mengantri air lantaran takut kehabisan. Bahkan gegara air saja bisa menimbulkan percekcokan. Rebutan selang air hingga rebutan antrian pengisian.
"Bahkan warga pernah melontarkan lebih baik tidak punya listrik ketimbang tidak ada air bersih," ucap Sandi pada Koran ini, Jumat (3/11).
Terjun sebagai tenaga honorer di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng baru berjalan empat bulan lamanya. Siapa sangka, mantan pegawai perbankan ini pernah dihadapkan dengan puluhan warga yang menolak mobil tangki air kembali ke kantor.
"Persoalannya karena belum semua kebagian air bersih, kami sempat ditahan warga tidak boleh kembali sebelum mobil tangki yang lain tiba," ungkapnya.
Kondisi ini dialami Sandi bersama rekan BPBD lainnya di Desa Bagik Kerongkong, Kecamatan Praya Timur. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Lombok Timur.
"Mereka butuh dua tangki, namun yang kita distribuaikan cuma satu. Jadinya musyawarah dulu hingga satu setengah jam, babinsa datang, kepala desa datang. Setelah mobil tangki kedua tiba, baru boleh pulang," katanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Menurut anak bungsu dari dua bersaudara itu, pengalaman ini lumrah terjadi. Apalagi ia terjun ke dunia kemanusiaan maka belum ada apa-apanya dibandingkan pengalaman petugas yang lebih senior. "Saya cukup senang bisa ikut berkontribusi membantu penyaluran air, beban mereka berasa hilang sedikit," ungkapnya.
Pria lajang ini menerangkan, mendistribusikan air bersih tidak semudah hanya menginformasikan kesulitan air bersih. Namun harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP), mengingat kesulitan air bersih merata dialami sebelas kecamatan kecuali Kecamatan Batukliang Utara.
Melihat semakin banyak permintaan air bersih, pihaknya menjadwalkan air per hari untuk satu kecamatan. Ini dilakukan sebagai pemerataan dan efisiensi kendaraan operasional. Jika harus mendistribusikan ke wilayah barat dan sebagian ke timur dinilai menyulitkan. Sehingga langkah baiknya fokus satu kecamatan dalam satu hari.
"Sekarang per hari ini kita bisa kirim air enam mobil tangki, paling sedikit empat tangki," tukas Sandi. (*)
Editor : Rury Anjas Andita