Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dianggap Tidak Sesuai Kearifan Lokal, Dewan Usul Desain Ulang Pasar Renteng dan Jelojok

Lestari Dewi • Jumat, 17 Mei 2024 | 17:25 WIB
USUL REDESAIN: Aktivitas pedagang berjualan di area bawah gedung pasar Renteng, Kota Praya, kemarin (16/5). Sebagian besar pedagang menolak berdagang di lantai atas sehingga menumpuk di area bawah.
USUL REDESAIN: Aktivitas pedagang berjualan di area bawah gedung pasar Renteng, Kota Praya, kemarin (16/5). Sebagian besar pedagang menolak berdagang di lantai atas sehingga menumpuk di area bawah.

LombokPost-DPRD Lombok Tengah (Loteng) menyoroti kondisi gedung Pasar Renteng di Kota Praya yang dikeluhkan pedagang setempat.

Dianggap tidak berkearifan lokal, membuat para pedagang menolak berjualan di lantai atas. 

Mereka pun lebih banyak dan menumpuk berjualan di area bawah. Membuat kondisi pasar semrawut, sempit dan sumpek.

Bahkan akses jalan bagi pembeli tidak ada, karena pedagang berbaur dengan titik-titik parkir kendaraan motor hingga cidomo. 

”Bahkan, pedagang minta tembok bagian utara, timur, selatan itu dijebol, tidak ada udara yang masuk,” ungkap Wakil Ketua DPRD Loteng Mayuki pada wartawan, Kamis (16/5). 

Dewan pun mengusulkan, perlunya redesain gedung Pasar Renteng dan Jelojok yang sesuai kearifan lokal.

Sebab dalam pembangunannya dulu oleh pemerintah pusat tidak melibatkan masyarakat lokal atau pedagang terkait desain pasar. 

Diakui, kondisi gedung memang masih bagus namun jika tidak ditempati pedagang lambat laun akan rusak.

Lantaran desain tidak sesuai kearifan lokal, menjadi penyebab masyarakat enggan menempati lantai atas.

”Sebenarnya tidak bisa pasar tradisional ini menjadi pasar yang permanen seutuhnya, modelnya tertutup tidak ada sirkulasi udara,” terang politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini. 

Baginya, percuma saja gedung bagus namun tidak memberikan dampak bagi pendapatan daerah. Hingga kini restribusi pasar yang masuk kantong daerah tidak kurang dari 25 persen.

Belum lagi lapak-lapak pedagang yang hanya terisi kurang dari 50 persen. 

”Tidak seimbang apa yang dikeluarkan pemerintah dengan pemasukan yang diharapkan," ucap Mayuki. 

Anggota DPRD Loteng Ahmad Rifai menambahkan, pihaknya merekomendasikan agar Pemerintah Daerah (Pemda) Loteng melakukan redesain bangunan pasar untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Selain itu, dengan adanya peningkatan fasilitas pasar tradisional tersebut dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

”Tujuan redesain ini agar para pedagang dapat lebih tertarik untuk membuka usaha di kedua pasar tersebut,” kata politisi PKS ini. 

Terpisah, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Loteng Raden Roro Sri Mulyaningsih mengakui ada saran dari dewan agar dua pasar dilakukan redesain. Sehingga pedagang lebih tertarik untuk membuka usahanya.

”Pasar Jelojok dan Renteng kami rasa desainnya sudah sangat bagus," imbuhnya. 

Menurutnya, fasilitas yang digunakan harus ada pemeliharaan. Apalagi Pasar Jelojok sudah sekitar lima tahun beroperasi, sehingga banyak yang mengalami kerusakan.

”Yang menjadi kelemahan dinas, tidak pernah ada biaya revitalisasi untuk pasar,” katanya.

Ia mencontohkan, pada Pasar Renteng ada 24 kamar mandi, dengan melihat jumlah fasilitas umum yang cukup banyak tapi masyarakat sampai saat ini masih kurang bisa menjaga, hingga beberapa fasilitas mengalami kerusakan.

"Ada beberapa lokasi yang memang membutuhkan perbaikan sekarang ini," ucap dia. 

Di satu sisi, perlu juga untuk diatur ulang mengenai penempatan pedagang di kedua pasar.

Terutama di Pasar Renteng agar para pedagang dan pembeli merasa lebih nyaman.

”Misalkan di los basah yang tersedia hanya 56 lapak, perlu diatur bahkan bila perlu ditambah karena pedagang juga banyak dan los basah ini harusnya di lantai satu," katanya.

Pada lantai dua pasar Renteng, sambungnya, bisa dibuat menjadi lokasi apa yang bisa menarik pedagang untuk berjualan.

Sebab, rata-rata para pedagang lebih memilih berjualan di lantai pertama dan mereka membuat lapak sendiri di area parkir. 

”Jadi kalau desain sebenarnya sudah bagus tapi tinggal bagaimana kita atur pedagang ini agar lebih bagus lagi,” tutup wanita berjilbab itu. (ewi/r11) 

Editor : Kimda Farida
#Loteng #DPRD #pasar