Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemda Loteng Pastikan Puncak Panen Raya Pertengahan Agustus

Lestari Dewi • Rabu, 31 Juli 2024 | 18:05 WIB
PUNCAK PANEN AGUSTUS: Sejumlah petani sedang memanen hasil padi miliknya di persawahan Desa Gemel, Kecamatan Jonggat, Loteng, Selasa (30/7).(Dewi/Lombok Post)
PUNCAK PANEN AGUSTUS: Sejumlah petani sedang memanen hasil padi miliknya di persawahan Desa Gemel, Kecamatan Jonggat, Loteng, Selasa (30/7).(Dewi/Lombok Post)

LombokPost-Pemda Lombok Tengah (Loteng) memastikan puncak panen raya pada musim tanam kedua ini terjadi pada pertengahan Agustus.

Melihat sebagian wilayah yang masuk dalam target luas tanam mulai memanen hasil padinya.

”Juli ini sebagian sudah panen, Juni lalu tidak ada panen,” ucap Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian (Dispertan) Loteng Zaenal Arifin pada wartawan, Selasa (30/7).

Hasil panen padi pada musim kedua ini, diprediksi tidak jauh dari target produksi sebelumnya yaitu 75 ribu hektare (Ha) atau sebanyak 350 ribu ton beras.

Melihat kebutuhan beras untuk dikonsumsi masyarakat Loteng sebanyak 135 Ton beras, artinya Loteng masih mengalami surplus beras 215 Ton beras.

”Sehingga dipastikan beras nanti ada dimanapun, tidak ada alasan kekurangan pangan berupa beras ini,” tegasnya.

Diketahui, ada beberapa lokasi hasil panen padi petani kurang bagus.

Namun ini dalam jumlah kecil sehingga tidak mempengaruhi kualitas panen padi keseluruhan.

“Bisa dikatakan hasil produksi padi menjadi beras ini aman,” imbuh Zaenal.

Sementara itu, untuk tahun depan, pihaknya menargetkan luas tanam padi seluas 96 ribu Ha. Luas ini bertambah dari target luas tanam tahun 2024 seluas 92 ribu Ha.

Optimisme melampaui target ini lantaran kondisi iklim pada pertengahan tahun memasuki La Nina.

“Dari hasil BMKG pusat menyebut 40 persen wilayah Indonesia akan hujan di bulan Agustus,” katanya.

Satu sisi jika hujan intens terjadi, yang menjadi dilema adalah petani tembakau. Sebab kebanyakan petani lokal, usai menanam padi dua kali maka penanaman ketiga adalah tembakau.

“Apalagi saya lihat ada sudah petani-petani yang mulai tanam tembakau di beberapa lokasi,” ucapnya.

Terpisah, pemda akan membangun tiga pabrik penggilingan padi dan pengolahan beras modern (modern rice milling plant/MRMP) 2024 untuk mendukung produksi pertanian di Gumi Tatas Tuhu Trasna. “Anggaran pembangunan pabrik penggilingan itu Rp 900 juta,” ucap Kepala Dispertan Loteng M Kamrin.

Pembangunan pabrik ini menggunakan anggaran dari dana alokasi khusus (DAK) fisik pertanian.

Gedung pabrik penggilingan padi ini dibangun di tiga desa yang menjadi sentra beras di Loteng. Antara lain, Desa Sisik di Kecamatan Pringgarata, Desa Mujur di Kecamatan Praya Timur dan Desa Selebung di Kecamatan Batukliang.

Tahapan proyek ini, diakui, sedang dalam tahap tender dan diharapkan pengerjaan bisa dimulai bulan depan. Pembangunan pabrik penggilingan padi nanti bakal dikelola kelompok tani bekerja sama dengan pemilik lahan setempat.

“Tujuan dari pembangunan penggilingan padi ini untuk mengoptimalkan hasil produksi petani,” katanya.

Selain itu, untuk menyederhanakan alur proses pengolahan beras yang terpusat dan meningkatkan fasilitas pengolahan gabah hasil panen berbasis teknologi modern.

Keberadaan pabrik juga diyakini akan memudahkan masyarakat, terlebih pada musim hujan.

Sehingga pabrik penggilingan yang dibangun dilengkapi mesin yang cukup mumpuni, dengan kapasitas beberapa ton per jam.

”Kemudian pada pabrik juga ada mesin pengering padi, sehingga pada musim hujan petani tidak susah bila ingin menjemur padinya,” beber mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Loteng ini. (ewi/r11)

Editor : Kimda Farida
#Loteng #Beras