LombokPost--Mandalika Hotel Association (MHA) angkat bicara persoalan tingginya kamar hotel menjelang balapan MotoGP Mandalika 2024.
Menurut MHA, kenaikan harga kamar hotel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika bukan hal baru. Apalagi hanya muncul ketika MotoGP saja.
”Setiap perhelatan MotoGP kok masih heran dengan persoalan harga kamar hotel,” sebut Sekretaris MHA Rata Wijaya pada Lombok Post, Selasa (10/9).
Ia menuturkan, kenaikan harga kamar hotel adalah bagian dari dinamika pasar atau strategi pemasaran yang diterapkan jauh sebelum ajang MotoGP.
”Harga kamar yang tinggi ini bukan fenomena baru. Kami menjual kamar hotel, sedangkan MGPA dan ITDC menjual tiket MotoGP. Kami pun tidak pernah keluhkan harga tiketnya (MotoGP) yang tinggi,” jelasnya.
Kenaikan harga kamar hotel merupakan hukum permintaan dan penawaran.
Di tengah permintaan yang tinggi pada kamar hotel, sementara jumlah kamar hotel terbatas membuat harganya naik signifikan.
”Ini isu-isu lama yang sengaja digoreng pihak penyelenggara untuk menutupi kegagalan mereka dalam menjual tiket MotoGP,” sindirnya.
GM Tunak Cottage ini mengaku, setiap hotel memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan kapan harus menaikkan dan menurunkan harga kamar. Hotel pun tidak bisa sembarangan menentukan harga.
”Kami memiliki dasar perhitungan yang matang untuk menetapkan tarif kamar,” sebut Rata.
Ia menegaskan, kenaikan harga kamar hotel saat ini masih dianggap dalam batas wajar.
Lonjakan harga kamar yang terlihat di platform online sudah termasuk top up 17-25 persen untuk travel agent. Sehingga tidak bisa disebut sebagai permainan harga.
”Ini terjadi di semua tempat, hotel di Jawa, Bali ketika ada event, konser. Tidak hanya di Mandalika saja,” bebernya.
Dengan pola serupa yang terjadi pada MotoGP 2024, Rata menyebut ada indikasi menjadikan pengusaha hotel sebagai kambing hitam terhadap seretnya penjualan tiket MotoGP Mandalika pada tanggal 27-29 September nanti.
“Satu sisi ada pihak mencari pembenaran, satu sisi dijadikan kambing hitam (pengusaha hotel),” tegas Rata.
Rata mengatakan, rendahnya minat penonton MotoGP tahun bukan karena kenaikan harga kamar hotel.
Melainkan, rendah atau kurangnya promosi maksimal oleh penyelenggara.
”Jika tamu penonton mampu beli tiket MotoGP seharga Rp 15 juta dan membayar harga kamar Rp 2 juta, ini masih wajar. Kenapa dia harus mengeluh ketika mampu beli tiket belasan juta dan kamar hotel Rp 2 juta,” katanya.
Menurutnya, penting dilakukan evaluasi bersama antara penyelenggara, pemerintah dan pelaku wisata untuk meningkatkan kualitas pariwisata.
Sebab untuk memajukan pariwisata, harus melihat lebih dari sekadar akomodasi selama musim MotoGP.
“Diperlukan kerja sama lintas stakeholder yang serius dan berkelanjutan,” cetus Rata.
Terpisah, Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri mengatakan, perlu ada diskusi bersama seluruh pihak dan penyelenggara agar jangan sampai memberikan dampak kurang baik bagi pariwisata daerah.
“Kita juga tidak bisa menghakimi pelaku hotel seperti itu, bisa saja ada oknum atau travel agent nakal yang bermain lalu diberitakan dan membuat iklim pariwisata daerah kurang baik,” singkatnya.
Sebelumnya, Deputy General Manager The Mandalika Mamit Hussein mengatakan, ada dua penyebab masyarakat enggan membeli tiket MotoGP Mandalika 2024.
Yakni, trauma dengan mahalnya harga akomodasi kamar hotel dan pesawat pada ajang MotoGP tahun 2022 dan 2023.
”Flightnya tinggi, sehingga penonton yang menggunakan pesawat itu cukup menurun. Jadi ini yang membuat kami kesulitan untuk meyakinkan mereka membeli tiket,” ujarnya. (ewi/r11)
Editor : Kimda Farida