Para guru dan murid SDN Pasung, Desa Bangket Parak, Lombok Tengah bergotong royong membersihkan ruang kelas dari lumpur sisa banjir.
Usai ujian semester, mereka membersihkan sisa kotoran menggunakan alat seadanya namun penuh sukacita. Berikut ulasannya.
----------------------------------
Banjir yang sempat merendam rumah-rumah warga dan satu gedung sekolah di Dusun Pasung Lauk berangsur-angsur surut.
Ini dimanfaatkan warga untuk membersihkan rumah dari sisa-sia kotoran dan lumpur saat banjir. Tak terkecuali para murid dan guru SDN Pasung siang itu.
Riuh tawa dan canda para murid meramaikan area sekolah.
Mereka baru saja menuntaskan jadwal ujian semester hari itu, yang sempat tertunda sehari lantaran ruang kelas dan halaman sekolah terendam banjir pasca diguyur hujan terus menerus pada Senin (9/12) lalu.
Menggunakan alat seadanya, mereka penuh semangat dan gotong royong membersihkan ruang kelas agar kembali nyaman, bersih dan cantik kembali.
Murid laki-laki menggotong air menggunakan sebuah ember yang diangkut dari sumur belakang sekolah. Byuurrr
“Adeng-adeng kanak (pelan-pelan nak, red),” teriak seorang guru yang disambut tawa para muridnya. Lantaran cipratan air dan lumpur mengenai sebagian rok yang dikenakan sang guru.
Bisa dibayangkan bagaimana pagi itu mereka ujian sekolah dengan kondisi ruang kelas yang kotor.
Namun tak menyurutkan langkah mereka mengikuti ujian dengan serius.
Untuk mencairkan suasana, pihak sekolah sengaja mengajak mereka untuk bersama-sama membersihkan ruang kelas usai ujian.
“Tetap berjalan ujian dulu anak-anak, setelah itu kami ajak bersih-bersih ruang kelas, sambil bermain,” ungkap Kepala SDN Pasung Suhartika pada wartawan, Rabu (11/12).
Awalnya anak-anak diarahkan untuk ujian di bawah tenda yang telah disiapkan pemda. Guna mengantisipasi turunnya hujan.
Namun melihat kondisi air mulai surut dan meja kursi dalam ruang kelas tidak basah total, pihak sekolah lebih memilih ujian dilakukan di ruang kelas.
“Alhamduillah kami pantau sejak malamnya air mulai surut, kondisi sekolah aman dan sepakat (ujian sekolah, red) di ruang kelas, tidak di tenda,” kata Suhartika.
Salah seorang guru Yusuf menambahkan, daerahnya kerap menjadi langganan banjir jika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Ini pula membuat air sungai dan air laut meluap, bertabrakan dan bermuara di Dusun Pasung, Desa Bangket Parak.
“Parahnya banjir kali ini merobohkan sebagian tembok keliling sekolah, air masuk lewat gerbang, tidak ada jalan keluar, jebol temboknya,” cetus Yusuf.
Mereka berharap semoga banjir tak lagi melanda Desa Bangket Parak.
Selain mengganggu aktivitas belajar, tempat tinggal dan rumah ibadah juga terdampak banjir. (Lestari Dewi/r11)
Editor : Kimda Farida