LombokPost-Komisi II DPRD Lombok Tengah (Loteng) sedang menggodok rancangan peraturan daerah (ranperda) ekonomi kreatif.
Sebagai upaya merespons dan menggali potensi daerah dari sektor pariwisata.
”Dari regulasi ini diharapkan memberikan dampak peningkatan perekonomian Loteng,” ungkap anggota Komisi II DPRD Loteng Lalu Muhammad Akhyar.
Menurutnya, ranperda ini menunjukkan sejauh mana kepedulian eksekutif dan legislatif terhadap perkembangan ekonomi kreatif lokal di daerah.
Sebagai contoh, keberadaan kecimol dengan segala kontroversinya tak dipungkiri itu menjadi bagian seni ekonomi kreatif di Gumi Tatas Tuhu Trasna.
“Kita masih berdebat ini (kecimol, red) tidak boleh, mengganggu dan lain sebagainya. Tapi ketika seni ini masuk dalam situs web yang berbagi video ternyata penontonnya banyak, ini potensi namun masih kita anggap sebelah mata,” terangnya.
Ia berpendapat, jika kesenian diatur sedemikian rupa, mendapat perhatian lebih, muaranya bisa mengangkat nama baik daerah.
Belajar dari Korea Selatan yang terkenal dengan K-Pop, tak dipungkiri Indonesia khususnya Loteng bisa dikenal dengan aneka keseniannya.
“Dalam perda juga mengatur pengembangan seni ke ranah digital. Lebih jauh masih kita bahas rancangannya, sejauh ini kita sudah dua kali uji publik untuk menyerap masukan seluruh komponen masyarakat,” tukas Akhyar.
Sementara itu, Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri sangat mendukung pembahasan ranperda ini.
Dikatakan pengembangan pariwisata pada Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) Mandalika dan Sirkuit Internasional Mandalika telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Sehingga diharapkan warga bisa mengambil peluang dengan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah.
“Dari ajang di KEK Mandalika itu kita bisa mendapatkan tambahan pendapatan asli daerah (PAD) sekitar Rp 12 miliar per tahun. Belum termasuk pajak hotel dan restorannya,” tambahnya.
Dampak dari pembangunan ini, kata bupati, sedikitnya ada 35 ribu UMKM yang tersebar di 12 kecamatan. Mulai dari kuliner, kerajinan, kesenian dan olahan makanan dan minuman lainnya.
“Artinya pembinaan terhadap mereka harus terus ditingkatkan, sehingga meningkatkan produktivitas mereka,” tutup orang nomor satu di Gumi Tastura itu. (ewi/r11)
Editor : Kimda Farida