LombokPost-Lahan perbukitan yang ditanami jagung oleh masyarakat dipastikan tak berkaitan dengan program pemerintah pusat dalam menggalakan penanaman jagung.
Sebab, program pemerintah tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, juga tidak menanam pada kawasan konservasi.
“Ini memang menjadi bahan diskusi kita, kaitan dengan alih fungsi lahan perbukitan ditanami jagung,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Tengah (Loteng) Lalu Firman Wijaya.
Diakui, Pemerintah Daerah (Pemda) Loteng sulit mencegah masyarakat menanam jagung di kawasan perbukitan di Kecamatan Pujut.
Hal tersebut berdampak pada kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan tak terhindarkan.
“Lahan ini yang seharusnya tertutup kini sudah terbuka, kalau sudah terbuka begini maka kalau terjadi hujan maka tanah yang di atas akan tergerus. Dan untuk menyelesaikan permasalahan ini kalau kita menggunakan regulasi akan sangat sulit, yang bisa kita lakukan hanyalah mengimbau,” bebernya.
Permasalahan ini kerap muncul, namun tidak bisa dilakukan tindakan tegas.
Penyebabnya yang menanam jagung adalah masyarakat sekitar.
Untuk tindak tegas, membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak.
“Karena ini urusan perut, tapi insyaallah secara perlahan akan hilang dan kita butuh pendekatan,” terang mantan kepala Dinas PUPR Loteng ini.
Dinas Pertanian (Distan) Loteng menargetkan, luas tanaman jagung pada 2025 mencapai 22.618 hektare guna mendukung ketahanan pangan nasional.
Target luas lahan pun mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan 2024.
“Meningkat 14 ribu hektare,” kata Kepala Bidang Perkebunan Distan Loteng Zaenal Arifin.
Peningkatan luas tanam jagung ini, lanjutnya, sebagai upaya mendukung program Astacita Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
Ditambah program kerja sama dengan kepolisian yang menargetkan 1.044 hektare untuk lahan jagung yang bukan eksisting.
“Untuk satu tahun ini ditargetkan bisa 22.618 hektare karena dalam setahun itu bisa juga dua kali menanam jagung,” kata dia.
Target ditetapkan karena melihat kondisi cuaca, mengingat saat ini masuk musim La Lina. Sehingga para petani banyak yang lebih awal menanam jagung.
Antusiasme masyarakat menanaman jagung didorong pada HPP jagung sebesar Rp 5.500 per kilogram dengan target produksi jagung mencapai 131.000 ton per tahun.
“Lahan-lahan yang ada di wilayah selatan yang ditanami jagung ini direncanakan akan panen Februari dan bisa ditanami kembali jagung,” katanya. (ewi/r6)
Editor : Kimda Farida