Siapa sangka mantan tenaga honorer yang di-PHK gegara Covid-19, kini sukses meraup omzet puluhan juta dari hasil beternak telur ayam.
-------------------------
KANDANG ayam seluas 15 are itu berada cukup jauh dari perkampungan.
Untuk menuju ke lokasi, Ahmad Samsir kerap menggunakan sepeda motor.
Tampak dirinya diikuti dari belakang sebuah mobil pikap berwarna hitam lusuh.
Kedatangan mobil ini untuk mengangkut ribuan telur ayam hasil panen usaha yang dilakoni sejak lima tahun lalu.
Mantan tenaga honorer asal Kelurahan Sasake, Kecamatan Praya, Lombok Tengah (Loteng) justru sukses menjadi pengusaha ayam petelur.
Kini memiliki omzet hingga puluhan juta Rupiah setiap bulannya.
“Alhamdulillah bisa mencapai Rp 25 juta omzet per bulan,” kata dia pada Lombok Post.
Sebelum pandemi Covid-19, Samsir adalah tenaga honorer di lingkup pemerintah daerah Loteng. Gajinya tak seberapa.
Makin miris, ada kebijakan pengurangan pegawai, dan dia harus menerima kenyataan kontraknya diputus.
“Di-PHK (pemutusan hubungan kerja, Red) karena pengurangan pegawai,” ujarnya.
Tak ingin larut dalam kesedihan, ia pun mencoba bangkit dengan mengembangkan usaha ayam untuk dijual ke peternak lain.
Semua dengan modal dari hasil gaji terakhir yang diperoleh dengan tambahan sedikit tabungan. Dari hasil dana ini dirinya bisa membeli dua ribu ekor ayam petelur.
Walau sudah memiliki ribuan ayam, disebut Samsir tidaklah mudah.
Kala itu pada masa pandemi terjadi lockdown di sejumlah wilayah. Barang tidak bisa ke luar, ia pun harus memutar otak dengan membangun kendang.
“Tadinya ayam-ayam ini mau saya jual, namun kenapa tidak diternak saja dan dijadikan ayam petelur,” cetus bapak anak dua ini.
Sempat mengalami pasang surut usaha akibat ekonomi belum stabil, membuatnya harus berkeliling dan berjualan telur di pinggir jalan.
Lagi-lagi karena sepi pembeli membuatnya mengalami kerugian.
“Lambat laun dengan kerja keras dan semangat, perlahan-lahan usaha ini mulai membuahkan hasil. Dari dua ribuan ayam kini menjadi delapan ribu ayam,” kata dia.
Telur ayam yang semula dijual di pinggir jalan, kini sudah di jual ke sejumlah hotel berbintang. Bahkan memasok ke pasar-pasar besar di Loteng dan Lobar.
Meluasnya lokasi penjualan, membuat dirinya melibatkan tenaga kerja lokal lebih banyak. Sebab tak lama lagi dirinya akan menambah enam ribu ekor ayam petelur lagi.
“Saya juga ingin membantu warga sekitar yang tidak punya pekerjaan namun mau bekerja keras dan berusaha. Ini membantu perekonomian mereka,” tutup dia. (Lestari Dewi/r6)
Editor : Kimda Farida