Lombok Post--Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lombok Tengah (Loteng) sudah menyurvei penyebab putusnya jembatan di Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur pada Sabtu (22/2) lalu.
Hasil survei kerusakan akan dirapatkan hari ini. Sekaligus mencari solusi penanganan jembatan yang menghubungkan tiga dusun, yaitu Dusun Tembuku, Dusun Dahe dan Dusun Orok-Orok Timur.
“Senin (hari ini, red) kami akan diskusi dengan pimpinan terkait bagaimana solusi penanganan jembatan yang putus ini. Sehingga bisa dilewati masyarakat, paling tidak pejalan kaki,” ungkap Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Loteng Zulkarnaen pada Koran ini, Minggu (23/2).
Penyebab putusnya jembatan, kata dia, ada beberapa hal. Yaitu, luapan air sungai membawa sampah sisa-sisa rumpun bambu yang tersangkut di kolong jembatan.
Kemudian, pada sisi abodemen jembatan dibagian utara rusak akibat akar pohon mahoni yang berada tepat disamping jembatan.
“Akar pohonnya berkembang, masuk ke belakang abodemen dan air sungai masuk. Ditambah hantaman air sungai saat hujan kemungkinan masuk ke dalam abodemen, yang akhirnya tidak bisa menahan jembatan dan putus,” terangnya.
Menyinggung besaran anggaran perbaikan jembatan, dia belum tahu pasti.
Sebab belum ada keputusan apakah perbaikan jembatan dilakukan segera atau ditunda pada APBD Perubahan 2025.
“Termasuk kemungkinan sumber pendanaan lain, misal dana tanggap darurat semacamnya,” cetus Zulkarnaen.
Selain dana, dalam rapat juga akan membahas bagian fisik jembatan mana saja yang akan diperbaiki.
Apakah pada bagian yang putus atau perbaikan menyeluruh.
Namun dirinya melihat perbaikan jembatan haruslah permanen, sebab jembatan dilintasi roda dua, roda empat dan lebih.
“Soal ini biasanya dinas akan turunkan tim konsultan untuk mendesain pilar jembatan. Jika hasilnya pondasi lama masih cukup kuat, ya dibangun pada bagian roboh saja. Kalau tidak, mau tidak mau diperbaiki seluruhnya,” paparnya.
Apeng, salah satu warga setempat berharap jembatan penghubung tiga dusun ini bisa segera diperbaiki.
Sebab sebagai jalan alternatif, ruas jalan ini cukup sering dilintasi pengendara bermotor baik roda dua dan empat.
“Kebetulan air sungai sedang surut, bisa dilintasi pejalan kaki tapi bahaya juga, khawatir bagian lainnya juga ikut amblas,” singkatnya. (ewi)
Editor : Kimda Farida