Menjadi salah satu destinasi wisata dekat ibu Kota Praya, Saman ingin berikan fasilitas lengkap bagi pengunjung yang datang ke Museum Tenun Dharma Satya di Desa Puyung. Dari penginapan, eduwisata hingga agrowisata.
---
HADIRNYA Museum Tenun Dharma Satya di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat ini memang menjadi salah satu impian yang dicita-citakan Saman saat muda.
Dia ingin pada masa tuanya memiliki tempat yang bisa bermanfaat bagi semua kalangan. Serta menghabiskan masa tua bersama istri di tanah kelahiran.
Untuk membangun museum tenun ini, Saman mengaku modalnya dikumpulkan dari investasi mata uang.
Saat muda dulu, Saman yang lahir dari keluarga pedagang itu lebih memilih menyimpan uangnya dalam bentuk uang asing. Baik itu dollar Amerikan, Euro, Poundsterling hingga Yuan.
Mata uang yang berhasil dikumpulkannya itu ditukar kembali dalam bentuk mata uang Rupiah.
Hasilnya, uang satu dollar yang dahulu dibelinya kisaran Rp lima ribu telah naik menjadi di atas Rp 12 ribu per dollar.
Jika dihitung-hitung modal pembangunan museum tenun hampir mencapai Rp satu miliar.
“Karena saya tidak ingin mati (meninggal dunia, red) di luar, sehingga fokus menjalani usaha bisnis di bidang pariwisata, sekaligus upaya melestarikan budaya lokal Sasak Lombok,” ungkap Saman.
“Sampai saya dikira (modal bangun museum, red) gara-gara pelihara tuyul, padahal investasi atau nabung uang mata asing seperti dollar. Saya juga tidak mengira dollar akan naik sedemikian rupa kala itu,” selorohnya.
Mengenakan kaos oblong berwarna hitam dengan gambar penari Gandrung, Saman tampilkan sisi kesederhanaannya.
Pensiunan Dinas Perindustrian dan Perdagaagan Loteng itu menyebut, lahan seluas 30 are ini tidak hanya melulu didirikan gedung museum tenun saja.
Pada bagian timur, ada empat unit rumah adat khas Sasak Lombok.
Nantinya bangunan ini akan dijadikan penginapan bagi siapa saja, khususnya wisatawan yang ingin menikmati liburannya disini.
Tarif yang akan dikenakan pun sangat terjangkau sudah termasuk dengan sarapan pagi.
Selain rumah, Saman juga hadirkan beberapa tenda atau glamping. Letaknya bagian selatan museum. Fasilitas ini bisa dipakai para pelajar yang hendak berkemah atau keluarga yang ingin merasakan sensasi berkemah.
“Bagian utara museum, kita juga ada semacam panggung mirip panggung acara yang bisa dipakai pesta seperti pernikahan dan sebagainya. Lokasi ini bisa dipakai jadi tempat resepsi, bahkan gathering keluarga ataupun perusahaan,” beber mantan penyuluh lapangan industri kecil tahun 1983 ini.
Ibarat fasilitas All in One, pengunjung atau wisatawan yang hendak datang ke Museum Tenun Dharma Satya ini bisa memilih berbagai paket budaya.
Mulai dari paket budaya yang disambut menggunakan pagar ayu, pentas budaya (Persean, Jaran Kamput, Tari Gandrung dan lainnya). Nantinya pengunjung juga bisa memilih paket makanan tradisional khas Sasak dengan dulang saji.
Kreasi dan inovasi tiada henti dilakukan Saman.
Dia berencana setelah peluncuran museum tenun dengan beragam fasilitas yang ada, dirinya tak lama lagi hadirkan agrowisata.
Lokasinya tak jauh dari bangunan museum. Pada lahan itu, dia telah menanam ribuan pohon jeruk peras yang setiap panen menghasilkan rasa buah jeruk yang manis.
“Kalau di Malang ada buah apelnya, nanti disini di Puyung ada buah jeruknya. Petik sendiri sepuasnya,” tutup Saman. (*)
Editor : Kimda Farida