Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Asa Pelaku UMKM Lombok Tengah untuk Naik Kelas, Tanpa Mesin Canggih, Perak Desa Ungga Lahir dari Dedikasi dan Cinta Perajinnya

Lestari Dewi • Jumat, 19 September 2025 | 20:43 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Di jantung Lombok Tengah, tersembunyi sebuah desa yang menyimpan warisan budaya yang tak ternilai, Desa Ungga. Desa ini adalah pusat perajin perak yang telah menguasai seni menempa logam mulia selama beberapa generasi. Salah satunya Muhammad Farid Rizki.

-----

Produk kerajinan perak dari Desa Ungga di Kecamatan Praya Barat Daya bukan sekadar perhiasan. Ia menjadi cerminan ketekunan, keindahan, dan cerita yang diukir dengan tangan. Proses pembuatannya adalah perjalanan panjang penuh ketelitian.

Perajin memulai dari lempengan perak murni yang dilebur lalu ditempa dengan palu kecil. Tanpa mesin canggih, mereka mengandalkan keterampilan manual warisan leluhur. Gerakan tangan yang lincah dan mata yang tajam mengubah lempengan kaku menjadi bentuk rumit nan artistik.

“Keterampilan dan kerajinan ini sudah turun temurun,” ujar Muhammad Farid Rizki, salah satu perajin.

Salah satu teknik khas yang digunakan adalah filigri. Teknik ini melibatkan penarikan benang perak setipis rambut, lalu dibentuk menjadi pola rumit dan disambung satu per satu. Hasilnya adalah perhiasan dengan detail halus, seolah renda perak berkilauan.

“Mulai dari cincin, kalung, anting, hingga miniatur perahu dan rumah adat, setiap produk memiliki keunikan yang membuatnya tak ada duanya,” beber dia.

Apa yang membedakan kerajinan perak Desa Ungga dengan daerah lain? Farid menjelaskan, kuncinya ada pada motif tradisional Lombok yang sering diintegrasikan ke dalam desain. Motif seperti bungkeh (bentuk bunga) atau pucuk rebung (pucuk bambu) menjadi ciri khas sarat makna. Beberapa tahun terakhir, motif Sirkuit Mandalika atau Pulau Lombok juga banyak diminati.

Produk perak Ungga kerap dikombinasikan dengan batu mulia lokal, seperti mutiara air tawar dari Lombok. Sentuhan itu menambah keanggunan sekaligus nilai estetika. Tak heran jika harga jualnya bisa lebih tinggi dibanding perhiasan emas.

Kerajinan perak Desa Ungga juga dikenal dengan mutu tinggi. Para perajin menggunakan perak dengan kadar kemurnian 92,5 persen atau perak sterling. Mereka bukan hanya menjual produk, tetapi juga menjamin kualitas dan keaslian.

“Banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sengaja datang ke desa untuk melihat langsung proses pembuatannya dan membeli produk otentik sebagai oleh-oleh,” terang Farid.

Muhammad Farid Rizki (kiri) menjelaskan keunggulan produk kerajinan perak khas Desa Ungga kepada seorang pengunjung festival.
Muhammad Farid Rizki (kiri) menjelaskan keunggulan produk kerajinan perak khas Desa Ungga kepada seorang pengunjung festival.

Membeli kerajinan perak Desa Ungga bukan sekadar membawa pulang perhiasan, melainkan sebuah karya seni yang lahir dari dedikasi dan cinta.

Dengan membeli langsung dari perajin atau toko di desa, pembeli juga mendukung ekonomi lokal sekaligus menjaga agar seni kerajinan ini terus hidup dan berkembang.

Desa Ungga membuktikan bahwa kerajinan tangan adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Setiap kilau perak menyimpan cerita tentang dedikasi, keindahan, dan kebanggaan atas warisan budaya.

Saat berkunjung ke Lombok, jangan lewatkan kesempatan untuk singgah dan menyaksikan keajaiban yang terukir di tangan perajin perak Desa Ungga.

Editor : Prihadi Zoldic
#Lombok Tengah #perajin perak #pelaku UMKM #desa ungga